Ketika dan Kukira

 

Ketika kau terus-terusan membohongiku dan aku hanya diam saja, kukira itu cinta, padahal itu adalah kebodohanku.

Ketika kau terus-terusan menyakitiku dan aku hanya menerima saja, kukira itu cinta, padahal itu adalah kelemahanku.

Ketika kau memerintahkanku untuk melakukan yang tak kuinginkan dan aku melakukannya, kukira itu cinta, padahal itu adalah ketololanku mengira dengan melakukannya kau akan lebih mencintaiku.

Dan cinta tak pernah menjadi milikku meski telah kuperjuangkan. Cintaku tak pernah menjadi milikmu kecuali hanya dalam mimpiku.

Kau melukai hatiku dan membuang pakaian kebesaran yang ingin kupakaikan padamu, karena kau dikuasai oleh nafsu ragawi yang membelenggumu di atas kapal bergoyang yang kau namakan cinta.

Aku memanggilmu di kala mentari mulai menampakkan sinarnya, tetapi kau tak pernah mendengarku sebab kemunafikan dan drama kehidupan telah memenuhi pikiranmu hingga matamu terbutakan dan tak lagi dapat melihat kemurnian dari cintaku.

Aku menghiburmu di kala malam dengan pelukan selembut selimut dan kata-kata menenangkan, namun kau tak juga mendengar karena pikiranmu terkaburkan oleh kekhawatiran akan hari esok yang memang bukan milik kita.

Aku takkan membuang pakaian kebanggaan yang bernama cinta kita, meski tak ada lagi masa depan untuk kita. Aku hanya ingin memperkaya batinku dengan hembusan angin surgawi yang akan memperkaya hidupku.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s