Sejak Kau Tak Ada Lagi

 

Sejak kau tak ada lagi di sini, kesunyian ini menjadi temanku dan malam menjadi hiburanku. 

Seperti malam yang tak abadi karena akan digantikan oleh pagi, hatiku pun tak lagi abadi, menghadirkan kenangan yang indah tak lagi menjadi kemampuanku, hanya kenangan yang tak manis dan jejak-jejak kebohongan yang memerah seperti bekas luka. 

Suara-suara yang dulu begitu akrab di telingaku, kini bagaikan mimpi yang tak kuinginkan lagi hadir dalam tidurku.

Harapan yang dulu pernah kuukir dalam setiap helaan nafasku kini hilang tak berbekas seperti harapan orang-orang terbuang yang dipenjarakan oleh mimpi untuk bertemu kembali dengan yang tersayang.

Hati yang dulu telah diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan dimenangkan dengan segala daya upaya, kini membeku di sudut penyimpanan seperti daging beku yang terlupakan, perlahan membusuk menjadi hitam.

Malam ini seperti malam-malam terdahulu, aku masih menatap langit malam dan membayangkan dirimu. Tapi kupastikan dulu air mataku sudah kering dan menjelma menjadi kebencian yang menghitamkan jantungku.

Malam yang sungguh gelap tanpa bintang, perlahan rasa pahit yang mengonggok di dasar hatiku naik ke tenggorokanku yang menyebabkan aku tercekat. Dingin mulai meremukkan tulang punggungku dan kilatan petir yang merobek malam menyambar kepalaku meremukkan isi otakku dan menyadarkanku, hingga akupun menemukan jawaban dari semua pertanyaan ku.

Aku hanya ingin membuang kebencian ini, agar aku tak merasakan apa-apa lagi.

 

 

—Ineke H—
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s