Hidup membawaku dari satu kejadian ke kejadian lain, takdir mengajakku berlarian dari satu waktu ke waktu yang lain, rintangan dan halangan menjatuhkanku dari saat ke saat, memaksaku untuk jatuh berlutut tak berdaya.

Kebahagiaan menghadirkan dirinya dalam keheningan yang hanya dapat kurasakan ketika kulepaskan semua nafsu, kesombongan dan keserakahan.

Dan kedatangan cinta yang lembut, bersembunyi dalam kegelapan atau berlalu di depan mataku dengan segala kegenitannya, membuatku bermimpi akan kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan, atau beban pikulan cinta membuatku terbungkuk terengah menggenggam jantung yang berdarah.

Kebingaran kota membuatku takut dan bergegas lari ke kampung untuk mencari keheningan, dan hanya ditemani bunyi air mengalir atau bunyi lonceng angin yang berdenting mengikuti kecepatan angin. 

Ada suara-suara yang berseru-seru di telingaku mengajakku untuk menyembunyikan kesadaranku dan menggantikannya dengan kegelapan, bagai mentari yang dibujuk untuk terbenam oleh sang malam.

Hatiku menyeru pertolongan pada siapapun yang mendengar, tapi tak ada seorangpun yang memahaminya, hanya percik air hujan yang mulai turun membasahi wajahku dan membuatku menggigil.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s