Mendekatlah kemari, kau yang menemaniku sepanjang hidupku, jangan biarkan angin musim hujan yang dingin mengisi celah di antara kita. Namun bila angin itu sudah menyelinap, mari kita nyalakan api, agar rasa dingin itu pergi karena, hanya apilah yang dapat memberikan kehangatan melawan dinginnya angin musim hujan kali ini.

Berceritalah padaku tentang segala yang telah terjadi, yang tengah kau pikirkan, yang kupikirkan, yang kita pikirkan. Jangan kau lupakan juga untuk menceritakan betapa luasnya hatimu mencintaiku. 

Kuncilah pintu, sebab dinginnya angin di luar membuat hilang semangatku. Lambaian daun-daun pepohonan di luar yang menggila, membuatku menggigil ketakutan. Bunyi angin yang menderu membuat pikiranku memikirkan hal-hal mengerikan.

Biar kupandang wajahmu, ketika kau bercerita tentang kehidupan, yang ramah ataupun tak ramah.

Jiwa-jiwa kita yang berduka akan disatukan karena kesamaan kita, seperti dua orang asing yang bertemu di negara antah berantah, hati disatukan dalam kemuliaan ketulusan dan kebahagiaan.

Dan biarlah api berkeretak hingga padam pada akhirnya, lalu kita akan berdiam diri menikmati keberadaan masing-masing, karena ada yang lebih besar, lebih tulus dan lebih murni daripada kata-kata yang diucapkan.

Keheningan menjadi milik kita. Karena dalam keheningan, kita menemukan cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s