Di negeri sepuluh ribu hujan, pikiranku terasa kosong dan kepalaku yang tadi terasa berat kini menjadi ringan.

Sedianya kuharapkan pelangi akan menembus mendung berat di langit, namun hujan masih setia turun dengan ributnya, membuat kulitku merinding kedinginan,  begitu juga  tangan dan hatiku. Namun aku merasakan kedamaian luar biasa.

Kedinginan ini kurasakan juga di tanah tempat ku berdiri, menusuk-nusuk bagai kenangan lama yang hancur berkeping lalu bulan mulai muncul menggantikan mentari yang samar kulihat sinarnya melemah dan nanti akan hilang.

Ada kehangatan di negeri sepuluh ribu hujan ini. Beberapa orang berjalan di depanku menawarkannya, yang dibawanya dalam  api  yang mengeluarkan bau harum di telapak tangannya, senyum mereka merekah dan matanya bercahaya. Cantik. Tapi belum juga kuterima cahaya nya.

Hujan seperti selendang putih bidadari melambai dan membelai lembut dan aku menyusupkan tubuhku ke dalam belaiannya dan merasakan kehangatan yang mengejutkan. Melegakan.

Aku telah mengikatkan diriku dalam pesona hujan yang takkan pernah gagal menghiburku. Meski kesedihan terlalu menjeratku dalam tangan-tangan kejamnya, hujan selalu ada untukku.

Hujan adalah segala yang kubutuhkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s