Pada Satu Pagi Tertentu

Pada satu pagi tertentu, hanya pagi itu, kami habiskan sarapan kami di meja yang dikelilingi oleh gunung, lembah dan hutan pinus yang indah dan harum, kau hantarkan menu makan pagi yang sempurna, di atas baki kayu dan piring-piring bergambar cantik, sementara aku makan kau memandangiku dan duniapun serasa lenyap di sekitarku, hanya ada kau dan aku, kami. Suara denting sendok dan garpu dan kicauan burung menjadi satu bagaikan sebuah simfoni yang takkan pernah kulupakan selama aku hidup. Lalu sang waktu semakin panjang dan lebar menyeberangi bumi tak kenal ampun. Dan hanya terjadi di satu pagi tertentu ini, ada kesenjangan yang selalu kau dengungkan, lembaran uang dan kulitku yang kuning, kesenjangan yang semakin menyala karena selalu didengungkan. Wajah yang memerah menahan amarah karena tak pernah meminta untuk dilahirkan menyimpan dendam yang tak bisa kumengerti dan sang cintapun perlahan menjauh karena selalu dibandingkan dengan lembaran uang dan kulitku yang kuning. Mari kugenggam saja asa sebelum segalanya berubah menjadi debu, karena hati yang dulunya putih bersih, kini sudah terbakar di sana sini, merintih pedih tak berdaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s