baloon

Kehilanganmu membuat kesedihanku menghancurkan kebahagiaanku. Kesedihanku lebih besar dari kebahagiaanku.

 

 

Tapi, aku bahagia karena kesedihanku kehilanganmu, mempererat hatiku dan hatimu tetap menjadi satu ikatan yang takkan pernah terlepas.

Advertisements

Kesunyianku

Aku dan kesunyianku adalah sepasang yang tak pernah bisa dipisahkan. Kesunyianku adalah kesendirianku yang mengajarkanku bertahan dalam kesunyian dan kesendirianku. Kesendirianku mengajarkanku bahwa tidak apa-apa menjadi sendiri dan menikmati kesunyian. 

Kesendirianku sudah muak pada kesombongan, kemunafikan dan kebohongan orang-orang di sekitarku. Sesungguhnya muak pada suara-suara orang-orang di sekitarku yang mengatakan kata-kata yang berbeda dengan hati dan isi kepalanya. 

Dulu pernah kumencari di luar kesunyianku, suara-suara yang masih menjanjikan kemurnian dan hati tulus, kata-kata yang masih dapat kupercayai, janji-janji yang akan ditepati, namun tak pernah kutemukan lagi makna dari semua kata-kata. Lalu semuanya mendadak menjadi sunyi karena telah kututup telingaku.

Lalu kutemukan kesunyian di dalam hutan manusia, dia tergeletak dengan indahnya bagaikan bunga melati di tengah jelaga, putih dan wangi. Memanggilku lembut dengan keharumannya dan menjanjikan kedamaian yang akan memelukku. Dan aku tak dapat pergi lagi dari pelukannya.

Di balik kesunyianku adalah kesendirianku. Di balik kesendirianku adalah aku yang bebas, bebas mencintai diriku sendiri, bebas mencari kebahagiaanku sendiri, bebas mencari kepuasanku sendiri, merajut mimpi-mimpiku dan menampung hasrat-hasratku. 

Dan barangkali satu hari nanti aku akan mengundangmu untuk bergabung bersamaku di kesunyian, bila kau sudah siap.

Hantu-Hantuku

Hidup ini keras, seperti tanah merah yang lama tak terkena air hujan, kering dan pecah-pecah, yang semakin mengeringkannya karena tak ada sebatang pohonpun yang tumbuh di atasnya.

Bunyi gesekan bambu di ujung jauh sana yang biasanya menenangkan, malahan membuatku semakin gelisah. Ingin kupindahkan pohon-pohon bambu gemuk yang berdiri dengan angkuhnya menantang langit. Agar dapat sedikit menyejukkan.

Denting bel-bel penanda angin yang berbunyi tanpa henti menandakan angin masih setia bertiup membawa hawa panas semakin panas dan tanah menjadi semakin kering.

Dan aku masih berteman dengan hantu masa kecilku yang setia menemani dimanapun aku berada. Andai saja yang menemaniku adalah peri cantik wangi yang mendamaikan kemarahan, kegelisahan, iri hati dan kecemasan yang senantiasa bergejolak di dalam hatiku, namun nyatanya bukan. Hantu-hantu inilah yang menemaniku dan membuatku menjadi diriku sekarang. Apakah aku sekarang sudah mirip hantu, karena aku dan hantu sudah berkawan akrab sekian lama?

Hidup yang terluka dan hati yang menjerit. Muak pada semua kebohongan, janji-janji, kepalsuan, nafsu angkara murka dan dengki iri hati. Lalu mengapakah aku masih saja terus merasa terluka? Jawablah hantuku.

Sore ini kulihat di ujung langit, ada mendung kelabu tipis yang berarak perlahan, mengumpulkan tenaga. Barangkali malam nanti hujan akan turun, mungkin hujan gerimis atau hujan deras, yang pasti akan menggemburkan tanah kering yang sudah pecah-pecah.

Aku sangat mencintai hujan. Suara yang terindah adalah suara tetes hujan yang jatuh ke bumi, semakin deras hujan semakin indah suaranya.

Dan barangkali malam ini hantu-hantuku akan pergi bersama dengan turunnya hujan, lalu akankah kurindukan hantu-hantuku?

Kau Dan Topengmu

 

Kau dan topengmu adalah dua yang satu dan satu yang dua.

Aku begitu mencemaskanmu dan berusaha untuk membuka topengmu dan melihat dirimu yang sesungguhnya. Sementara panas teriknya mentari berusaha melumerkan topengmu dan tangan-tangan tak kelihatan menjangkau kakiku menjegal langkahmu. Sampai kapankah akan kau sembunyikan wajah tampanmu di balik topeng? Sampai kapankah kau akan menatapku dari balik lubang kosong yang adalah mata topeng?

Kau menang aku kalah, kau kalah aku menang, tapi siapakah yang betul-betul menang dan betul-betul kalah? Kalaupun menang dan kalah bukankah hanya ada aku dan kau. Bukankah pernah kau katakan, menang untuk siapa kalah juga pada siapa? Tapi itu kata-katamu dari balik topeng.

Aku mendapatkanmu sekaligus kehilanganmu, karena sesungguhnya aku tak pernah mendapatkanmu karena ternyata sesungguhnya kau tak pernah ingin didapatkanku.

Kehampaan yang mengendap lama kau bangkitkan hanya untuk dihampakan kembali, meski aku tak pernah berharap, kau paksakan mimpi yang membuatku kembali berharap pada sesuatu yang hampa yang dulu pernah dengan polosnya kuinginkan.

Kepastian itu nyatanya tak pernah ada, hanya ada ketika kau bicara dari balik topengmu. Penuh dengan kesementaraan yang kukira adalah kepastian ketika diyakinkan oleh suaramu yang merayu seakan-akan segalanya pasti. Bodohnya aku, menjadikan segalanya selamanya.

“Tataplah mataku, lihatlah mataku.” serumu dari balik topeng laknat, setengah mati ingin mendapatkan kepercayaanku dari ucapan bohongmu. Naifnya aku menganggap matamu tak menyembunyikan kebohongan. Padahal mata itu hanyalah lubang hitam kosong yang tak bernyawa. Mati.

Masih kusimpan sisa airmata yang pernah kau curahkan untukku ketika polah lakumu masih kupercayai, dan kini kuberharap masih ada ketulusan di air mata itu.

Waktuku sudah hampir habis, tapi kukira kau tak pernah menyadari itu, karena kau masih saja menari di atas kesedihanku dengan memakai topengmu. “Ada apa denganmu?” bisikku lirih.

Mungkin kau harus berdamai dengan wajahmu yang dulu dan buang segala kesombongan dan kebohongan yang menempel di topeng yang kau pakai. Cucilah dan bersihkan segala kotoran yang menempel di tempat topeng itu pernah berada. Lalu mulailah kau belajar memikul kenyataan dan kebenaran, tidak menginjak-nginjaknya bagaikan barang tak berguna. Itulah kukira yang diinginkan oleh Sang Kuasa mu yang kau seru-serukan dan selamanya seharusnya kau berada di sana.

 

Cahayaku

Kau adalah cahaya yang datang dalam kehidupanku

tertawamu

kelakarmu

kasih sayangmu

ketekunanmu

kepandaianmu

pribadimu.

Waktu berlalu, dan aku masih akan mengenangmu setiap saat.

Menghitung hari hingga saat kita dapat bertemu kembali.

Sementara ini, biarlah cahayamu menerangi hari-hariku yang tak pernah lagi bahagia sejak kepergianmu.