Telah kau nyalakan api yang dulu susah payah kupadamkan, yang kini membakar seluruh tubuhku. Membuatku berdiri garing bagai pohon yang kelamaan terpanggang matahari musim kemarau.

Tak perlulah kau sesumbar kosong dengan kecongkakan yang memusingkan kepala, yang dulu dapat membuatku gemetar menantikan apa yang akan terjadi pada diriku. 

Kata-kata yang merangkai cerita sudah mengukir sejarah yang nantinya akan kuceritakan pada siapa saja yang ingin mendengar, cerita tentang kebohongan dan kemunafikan.

Jejak-jejakmu yang ada di pasir sudah disemen agar menjadi pengingat bahwa kau pernah hadir di sini bersama bisik angin dan kicau burung yang gelisah yang akan menemaniku mengingat lagi semuanya.

Lalu sang waktu akan perlahan merontokkan namamu terbuang di jurang yang dalam dan gelap hingga tak mungkin lagi ditemukan hingga beribu tahun nanti. 

Dengan begitu akan padam pulalah nyala api di dalam tubuhku ini.

 

Dan perlahan kurasakan ada yang retak di dalamku, sebuah pemahaman serupa sayap kecil kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong nya, gemetar tapi tangguh. Pemahaman tentang siapa dirimu yang tak kukenali lagi dan yang kusyukuri karena dengan mengenalmu aku dapat melihat kebaikan yang lain.

Lalu akan sampai masa ketika aku harus menorehkan takdirku yang baru berebut dengan masa yang takkan pernah bersahabat, bayang-bayang gontai diriku yang berusaha melangkah tegap, dan ceritamu yang lusuh bagai gambar hitam putih pudar termakan usia.

Aku tak sudi terbakar lagi oleh apimu.

 

 

 

 

Advertisements

Aku Dan Kedukaanku

Perjalanan kedukaanku adalah perjalananku dengan diriku sendiri, perjalanan tentang kehilangan dia yang kucintai.

Aku hanya harus berjalan melaluinya, begitu yang dikatakan. Padahal apa yang harus kulalui? aku bertanya dalam hatiku. Tak ada yang harus kulalui.

Untuk sampai ke seberang sana, padahal tak ada apa-apa di seberang sana itu, dan pun tak ada seberang sana. Yang ada hanya aku dan kedukaanku.

Aku hanya harus menerima yang tak bisa kuubah dan kuhindari, aku hanya harus menyesuaikan diri dengan ketiadaanmu, dan aku harus bisa terus menerus menunduk menahan air mata ketika kenangan akan dirimu menerjangku.

Tak ada jalan lain, aku harus menerima lubang di hatiku karena kau tak ada lagi di sisiku. 

Pintu yang kumasuki berbeda dari pintu dimana aku keluar, itulah yang dibuat kedukaan untukku. Menjadikanku manusia yang berbeda. 

Kukira aku takkan pernah menyelesaikan kedukaanku, aku hanya menjadikan kedukaanku sebagai bagian dari hidupku dan diriku.

Kedukaan adalah diriku sekarang.

 

 

 

 

 

Gelap

 

Di hutan yang kegelapannya membutakan, ada sebuah gua yang amat sangat gelap;

Ketika kumasuki gua yang amat sangat gelap, kurasakan perlahan jantungku berdegup makin kencang dan bulu kudukku meremang;

Kucoba untuk merasakan dinding-dinding gua yang lembab basah di bawah tanganku, karena mataku sudah tak bisa memandang tanganku sendiri;

Kutelusuri jalan di dalam gua, yang dialiri air sedingin es, membuatku menggigil perlahan;

Kurasakan langkahku terantuk pada sebuah kotak hitam pekat dengan gembok yang terbuka di sisinya;

Lalu kubuka tutup kotak itu dan kumasukkan tanganku ke dalamnya, meski dengan perasaan tak tentu, dan kudapati diriku memegang sebuah jantung yang masih berdegup.

 

Di dalam hutan yang gelap, di dalam gua yang gelap, di dalam kotak hitam yang gelap, kutemukan jantung, mungkin saja jantung itu berwarna hitam gelap dan bukan merah.

 

Selamat Tinggal Tahun Yang Lama Dan Selamat Datang Tahun Yang Baru

 

Sebentar lagi tahun yang baru akan datang dan tahun yang lama akan berlalu bersama dengan kenangan baik dan kenangan buruk yang mewarnai hari-hari sepanjang tahun.

Memasuki tahun yang baru, tentu saja aku dipenuhi harapan melambung akan kehidupan yang lebih baik di tahun depan, dan kebahagiaan yang akan senantiasa menemaniku di tahun depan.

Harapan, adalah suatu kata yang menurutku sangat mewah dan agung. Karena aku sudah kehilangan harapan akan segala sesuatu sejak 11 tahun yang lalu.

“Lalu bagaimana aku menjalani hari-hariku jika aku tak lagi berpengharapan?” ada yang pernah menanyakan pertanyaan ini padaku.

“Aku hanya bangun pagi, berusaha untuk menarik nafas dan menghembuskannya berulangkali, dan lalu menjalani hariku sampai malam datang dan aku kembali dipeluk oleh lelapnya tidur. Begitu saja.” jawabku.

Berdasarkan pengalaman, harapan selalu mengecewakanku, semakin aku bersikap positip dan penuh harapan, maka yang terjadi pasti akan mengecewakanku. Begitu pula sebaliknya, bila aku tidak berharap dan berusaha untuk menjalani saja apa yang harus dijalani, maka hasilnya justru semakin mengecewakan. Maka aku tak lagi pernah berharap. 

Banyak hal yang sudah menjadi harapanku, berubah menjadi kesedihanku. Kehilangan buah hati, dikhianati oleh orang yang kukira mencintaiku, berpalingnya teman dan saudara yang tak tahan berada dalam kedukaanku, kerja keras yang sia-sia, pekerjaan yang tidak dihargai, dan kata-kata yang dilontarkan oleh orang-orang tersayang yang tidak semestinya. Dan banyak lagi. 

Entah bagaimana sampai aku tak lagi memiliki harapan, mungkin proses nya sungguh panjang dan tidak terjadi begitu saja.

Betapa menyedihkannya ketika hidupku masih dalam gelembung harapan dan dibalik harapan aku percaya harusnya ada mukjijat, keajaiban. Maka aku terus menerus bergantung pada harapan yang pada satu hari nanti akan mendatangkan mukjijat untukku, padahal mukjijat itu hanya akan terjadi di dunia lain dan bukan di duniaku. 

Namun, dengan hilangnya pengharapan di hati dan pikiranku, pemikiranku akan logika kehidupan dan kehidupan yang harus kujalani semakin tajam dan terang. Bersamaan dengan itu, aku semakin memahami bahwa tidak semua harapan akan menjadi kenyataan. Dan bahwa dunia memang tidak pernah berjalan sesuai dengan keinginanku, tapi bagaimanapun dunia akan tetap terus berjalan. Bahwa aku harus bisa menerima yang tidak bisa kuubah, harus bisa menerima yang terjadi di luar kuasaku, dan harus bisa menerima apapun yang memang harus terjadi. 

Perjalanan hidup, perjalanan kedukaan dan perjalanan kegembiraan adalah seperti berjalan mendaki anak tangga, aku hanya terus mendaki. Seringkali aku harus berhenti pada satu anak tangga, karena kesedihanku, kekecewaanku, kemarahanku, tapi aku berusaha untuk tidak turun dari anak tangga itu dan menyerah kalah, yang merupakan pilihan yang sungguh mudah. Aku hanya harus berdiam diri di anak tangga tadi, berusaha menyusun kekuatan untuk melangkah lagi mendaki anak tangga berikutnya dengan kekuatan baru. Seringkali dalam perjalananku mendaki anak tangga, aku juga menemukan orang-orang menyebalkan yang berusaha menjatuhkanku dengan melemparkan batu, pasir dan ranting kayu. Maka aku hanya harus berusaha untuk menangkis dan menghindari batu, pasir dan ranting kayu agar tak melukaiku. Dan lalu aku hanya harus terus melanjutkan kembali langkahku menuju ke atas.

Dalam perjalananku, kutemui juga orang-orang baik yang membantu dan menemaniku menjalani perjalananku. Orang-orang luar biasa yang tanpa pamrih mengasihiku dan hanya mengharapkanku untuk segera bangkit dan terus melangkah. Orang-orang yang akan tetap bersamaku dari terbitnya mentari hingga terbenamnya dan hingga terbit lagi keesokkan hari. Yang tak pernah meninggalkanku dengan alasan apapun.

Aku hanya harus memilih kehidupan macam apa yang ingin kujalani dan dengan siapa aku akan menjalaninya dan bagaimana aku harus menjalaninya. Hingga bila harapan kembali mengkhianatiku, maka aku bisa menyimpan air mataku, membusungkan dadaku dan menegakkan kepalaku.

 

Temani Saja Aku Malam ini, Karena Aku Takut Sendirian

Temani saja aku malam ini, karena aku takut sendirian. 

Tenangkanlah hatiku hingga fajar tiba, memerah di Timur sana.

 

Meski mereka berkata bahwa kesendirian adalah keheningan, saat dimana aku dapat menemukan diriku sendiri, tapi malam ini aku tak mau sendirian.

Kesendirianku malam ini mencengkeram hatiku, meremas jantungku dan memerahkan mataku, menjadikan kedukaan yang merayap perlahan memasuki sukmaku dan akan bertahan hingga entah kapan.

Aku takut kesendirianku ini akan mengubahku menjadi bukan diriku lagi. Mengubah suaraku menjadi bukan suaraku lagi. Dan ketika kulihat wajahku di cermin, bukan wajahku lagi.

 

Jadi, temani saja aku malam ini, karena aku takut sendirian.