Mengenalmu

Mengenalmu adalah sebuah masalah yang tak berkesudahan. Dan kau tak juga mengenalku hingga detik ini, semuanya terasa mustahil bagaikan memindahkan air laut ke daratan menggunakan sendok. Padahal aku telah berseribu gaya di hadapanmu, namun hasilnya tetap nihil. Kau tak kunjung juga mengenalku.

Aku menanti dengan sabar, sambil menjalani hidup ini, aku melukis, aku merajut, aku bercerita, aku mengerjakan kehidupan sehari-hari, hanya untuk menjalani kehidupan karena aku masih hidup dan masih lama mati.

Pernah ada saat dimana kau nyaris mengenalku, pandangan yang tertuju pada wajahku, mata yang berkedut seakan menggali tumpukan memori di kepalamu jauh di dalam sana, gerakan ujung bibir untuk membentuk senyuman, tangan yang teracung seperti ingin melambai, saat yang sungguh membahagiakanku, serasa sebuah anak panah menghunjam jantungku yang penuh harap. Lalu saat itu hilang, kau tak jadi mengenalku karena di tumpukan memori mu ternyata tak ada aku.

Bayang-bayang senja sudah mendahului langkahku, padahal baru saja kutinggalkan siang yang membuatku bersemangat menaklukkan takdir. Dan sebentar lagi malam yang gelap akan menemaniku. Di ujung sana ada mata bulat hitam, mata remaja yang masih bersemangat menaklukkan dunia, yang sejatinya dulu adalah mataku dan matamu.

Aku ingin sekali lagi mencoba menyuruhmu menggali ke kedalaman memori di kepalamu, memilahnya perlahan-lahan, barangkali ada aku di sana, dan aku masih akan menunggu mungkin untuk beberapa saat lagi, tentunya dengan penuh harap, mumpung sore masih menyisakan mentari siang yang panas. Maukah kau? Tapi aku tak berani bertanya.

Mungkin aku sudah kehilangan keberanianku sekaligus harapanku, karena dari mata bulat itu kutemui kekerasan yang tak lagi kukenali.

Lalu perlahan kupanggil namamu, masih berharap kau akan menengok. 

 

Advertisements

Mencari

Menembus malam gelap tanpa bintang

Ketiadaan cahaya 

Di belakangku ada tatapan dari mata dingin seperti mata orang mati

Tak berbelas kasih

Kaki menjejak tanah dengan kelelahan sangat

Berat seperti tengah berjalan di lumpur

Ada kelebat bau

Membuat tatapan kembali menerawang ke belakang

Masih mencari sumber bau di bawah tatapan dingin yang membuat merinding

Namun sunyi dan jauh 

Terdengar lolong anjing seperti bunyi memanggil hantu

Setelah sekian lama mencari dan menunggu

Yang tersisa hanya kesunyian dan kelam hitam

 

Terus berjalan mengharapkan terang di ujung sana.

 

 

lonely-mood-sad-alone-sadness-emotion-people-loneliness-solitude-wallpaper-3

Tidakkah nuranimu terusik ketika kau tipu orang yang sungguh mempercayaimu, yang memberikan seluruh hidupnya dan dirinya hanya untukmu?

Janji tetaplah janji, meski kau terus mengingkarinya, janji tetap akan ada di sana, lalu dapatkah kau tatap kembali mata orang yang sungguh mempercayaimu setelah kau ingkari  dengan mudahnya semua yang kau katakan dan kau janjikan?

Dapatkah kau pejamkan mata dan terlelap dalam tidurmu di malam hari ketika isak tangis dia yang telah kau tipu menemani mimpi-mimpimu?

Atau barangkali kau menjadi sungguh hidup ketika kau rancang tipu-tipumu dan tipu-tipu itu berhasil?

 

 

 

 

 

Danau Sepi

Barangkali kau pergi menuju danau sepi ketika musim hujan hampir berakhir,

ketika pepohonan rimbun dan menyisakan tetes-tetes hujan di ujungnya.

Danau sepi yang terlihat dangkal dengan bebatuan berbayang dan air yang dingin memanggil untuk menyejukkan diri.

Ketiadaan ikan yang berenang-renang ceria di dalamnya membuatku resah dan ketiadaan angin yang biasa berhembus membawa sedikit kabut panas membuatku mencari.

Tapi air mata yang sudah sering diteteskan, tak sudi untuk diteteskan lagi.

Barangkali kau masih menunggu seseorang yang sungguh kau cintai, dan menunggunya menambatkan kapal di tepi danau sebelum kau memutuskan untuk pergi.

Hanya ada kesunyian yang merambat naik dari danau sepi yang membawa pergi segalanya.

Bila kau tak pernah tahu danau sepi ini selamanya sepi maka kau takkan pernah menyaksikan gunung es yang perlahan mencair.

 

 

 

 

Kau Adalah Aku, Aku Adalah Kau

teddy-617287

Kau adalah aku, aku adalah kau,

karena apa yang kau lihat akupun melihatnya,

apa yang kau rasakan akupun merasakannya,

apa yang kau dengar akupun mendengarnya,

apa yang kau katakan akupun mengatakannya,

apa yang kau kenakan akupun mengenakannya,

apa yang kau makan akupun memakannya,

apa yang kau minum akupun meminumnya,

apa yang kau tangisi akupun menangisinya,

apa yang kau tertawakan akupun menertawakannya.

Jadi kau adalah aku dan aku adalah kau.

Mengapa saling mencela? Mengapa saling menyakiti?

Aku mencintaimu kukira kaupun mencintaiku.

Bersamamu aku akan menjadi diriku yang terbaik, dan akupun akan membuatmu menjadi dirimu yang terbaik bila bersamaku.

Tak Sejati

Aku adalah diri yang tak sejati, terpecah, tercabik dalam kecemasan dan kuatir, hadir bersama hantu-hantu masa lalu yang tak pernah mau pergi dan monster masa depan yang siap menghancurkan asa yang muncul meski segaris.

Meski kucoba menyatukan, menjahit dan mengatur ulang diriku yang baru, tapi sang waktu kembali menghancurkannya karena waktu tak pernah bersahabat denganku.

Perjalanan kehidupan ini akhirnya akan berakhir pada satu tujuan yang sudah pasti, namun menuju kesananya lah yang sulit, dan aku bertekad untuk menyelesaikannya.

Aku adalah diri yang tak sejati yang di dalam diriku ada lubang dalam dan gelap bernama kehampaan, yang di dalamnya bersembunyi diriku yang sudah mati.

Kutu-kutu bergerilya menerobos lubang pori-poriku dan mulai menari dalam tarian keputusasaan yang nantinya akan membuat mereka mabuk dan menjadi liar.

Aku masih mencari kesejatian diriku yang pernah kutitipkan lalu hilang, bagaikan membaca buku yang tak pernah selesai karena keburu maut menjemput, hingga jiwaku masih bertanya-tanya bagaimana akhir dari cerita ini, akankah akhir yang bahagia ataukah akhir yang sedih?