Kriik kriiikkk

 

Kriik kriiik…

Aku mendengar suara dari otakmu yang tak henti berpikir. 

Berhentilah berpikir karena terlalu banyak berpikir akan membuatmu menjadi cemas.

Akan membuat masalah yang terjadi terlihat lebih buruk, lebih menyedihkan dan lebih mengecewakan.

 

Kriiik kriiikkk….

Hey, berhentilah berpikir.

Dengarlah saja hati nurani mu berbicara, dialah yang akan menuntunmu ke arah yang benar.

Berpikirlah ketika kau akan mengambil keputusan tapi jangan terlalu lama memikirkannya, setelah kau memikirkannya segera lakukan dan jangan pikirkan lagi.

 

Kriiik kriiiikkk….

Masih kudengar otakmu berpikir.

Ayo beristirahatlah, buang pikiranmu sejenak, duduklah dalam keheningan dan bernafaslah.

 

Mari, bernafas saja denganku…. dalam keheningan.

 

 

—Ineke H—

 

 

 

 

Advertisements

Ketika Usia Tua Menjelang

Ketika usia tua mengunjungiku kusadari :

  1. Gerakanku melambat,

  2. Aku sering menjatuhkan barang-barang yang kupegang,

  3. Mataku mulai menggunakan kacamata baca,

  4. Aku mulai gampang lupa, lupa meletakkan barang-barang, lupa nama, lupa tempat, lupa kejadian,

  5. Aku gampang lelah.

Dengan usia tua mengunjungiku aku juga menyadari :

  1. Aku semakin sabar,

  2. Aku semakin menerima bahwa aku tak lagi bisa mengubah dunia seperti semangatku dulu ketika masih muda, aku hanya menerima saja dunia yang ada di depanku dan menyiapkan diriku untuk menghadapinya,

  3. Aku semakin memaklumi begitu banyak sifat manusia: baik, jahat, sombong, pembohong, penipu, suka drama dan sebagainya, aku memakluminya dan mencoba untuk mengerti sama seperti mereka memaklumi diriku,

  4. Aku semakin menyukai keheningan dan kesunyian yang damai,

  5. Aku semakin menyadari bahwa ada hal-hal yang bisa berubah dan ada hal-hal yang tak bisa berubah dan aku menerimanya dengan lapang dada.

  6. Aku menyadari bahwa apa yang harus terjadi akan terjadi, dan aku harus menerimanya juga dengan lapang dada,

  7. Aku semakin menyadari bahwa aku tak perlu berkata-kata bila memang tak perlu,

  8. Aku semakin rendah hati dan menerima bahwa di atas langit masih ada langit.

Dan aku hanya ingin menua dengan anggun, hingga nanti nafas terakhir kulepaskan.

 

—Ineke H—

“Apakah itu membantu?”

 

Dalam kegalauan, ketakutan dan kesedihan, aku melangkah ke taman kota. Tak kulihat seorangpun duduk atau berjalan-jalan di sana. Sepi. Aku hanya ditemani kicauan burung dan dengung lebah di atas bebungaan.

Aku menumpahkan ketakutan dan kesedihanku dengan tangis tanpa suara sambil terus berjalan pelan. agar legalah dadaku.

Di ujung jalan setapak taman itu, aku melihat seorang tua tengah duduk di salah satu bangku taman, menengadahkan kepalanya ke langit dengan mata terpejam. Wajahnya dipenuhi kerutan tapi terlihat damai. Perlahan, aku berjalan melewatinya sambil melirik padanya, takut mengganggu keheningannya.

Pak tua itu menyadari aku lewat di depannya, dan dia membuka matanya sedikit memandangku, dan mengangguk pelan. Aku seperti terpukau memandangnya dan kuputuskan untuk duduk sebentar di sebelahnya.

Setelah aku duduk di sebelahnya, pak tua kembali melanjutkan kegiatannya menengadahkan kepala ke langit dengan mata terpejam. Melihat kedamaian yang terpancar ketika dia melakukan itu, akupun ikut memejamkan mata dan menengadahkan kepala menghadap langit. Keheningan yang hening menyelimuti kami berdua. Wajahku perlahan dihangati oleh sinar matahari yang tidak terlalu panas karena tertutup oleh rimbunnya dedaunan di atasku. Sinar matahari itu perlahan mengeringkan air mataku dan menghilangkan rasa bengkak di kedua mataku karena terlalu banyak menangis.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku menurunkan kepalaku membuka mataku dan memutuskan untuk bertanya pada pak tua yang masih belum juga mengubah posisinya, “Pak tua, pernahkah kau merasa kuatir atau cemas?”

Dia tak langsung menjawab pertanyaanku, hanya saja kulihat ada dua kerutan kecil yang perlahan muncul di puncak hidungnya, menandakan dia mendengarku, dan barangkali merasa terusik dengan pertanyaanku.

Kukira dia tak mau menjawab pertanyaanku, jadi kuputuskan untuk berdiri dari tempat duduk itu dan kembali berjalan. Baru saja aku melangkahkan kakiku, kudengar pak tua berkata dengan suaranya yang lirih dan empuk, seperti aliran angin menerpa telingaku, “Apakah itu membantu?” ujarnya.

Kupalingkan wajahku dan menatapnya, dia masih dalam posisi yang sama, hanya saja matanya terbuka sedikit melirik menatapku dan ada senyuman kecil yang miring di bibirnya, lalu matanya kembali terpejam dan bibirnya tak lagi tersenyum tapi terkatup rapat, bagaikan dia tak pernah berkata apapun.

Lalu kulangkahkan kakiku kembali berjalan, dan kurenungkan kata-kata pak tua, ‘Apakah itu membantu?’

Betul kata pak tua, jika aku merasa ketakutan, sedih dan cemas terus menerus, itu takkan menyelesaikan masalah-masalahku. Yang kuperlukan adalah kekuatan, ketabahan, semangat dan terus melangkah maju dan tak lagi melihat kebelakang. Perlahan, suatu kesadaran menghantamku bagaikan bunyi gong raksasa yang dipukul persis di telingaku. Aku tak boleh lagi takut, cemas, dan sedih, aku harus terus hidup dengan kekuatan dan ketabahan serta semangat pantang menyerah. Harus.

Kini aku tak lagi berjalan, aku berlari menuju pintu keluar taman, agar aku segera dapat menjalani hidupku. Aku sudah tak sabar.

 

—Ineke H—

 

Lagu Kita Kafe Kita

 

Aku masih duduk di kafe di ujung jalan, milik sepasang suami istri tua yang terlihat saling mengasihi, yaitu ketika mereka saling memandang mata ketika pasangannya tengah berbicara, saling menyentuh ringan tanda dukungan. Aku menyukai suasana di dalam kafe yang ditimbulkan oleh keakraban pasangan suami istri tua ini. Suasana yang membuatmu selalu ingin pulang dan menemui dia yang sangat kau kasihi dan cintai. 

Setiap kali kumasuki kafe itu, dulu selalu bersamamu, suasananya sungguh tenang, nyaris sunyi. Ada dengung pecakapan lirih yang tak mungkin terdengar bila kau tidak menajamkan telingamu. Ada bunyi-bunyian ganjil di tempat ini, bunyi-bunyian keheningan yang sangat kusukai. Kata-kata seakan-akan menguap membumbung di langit-langit dan perlahan menetap di sana bagai lukisan kata-kata atau menghilang seperti asap.

Lalu ada lagu yang dulu sering kau nyanyikan dengan berbisik karena takut mengganggu pengunjung kafe lain. Kau nyanyikan persis di telingaku, dengan suaramu yang agak bergelombang. Bukan lagu yang kudengar lagi yang membuatku menangis, akan tetapi kenangan yang hadir kembali bersamaan dengan lagu itu terdengar kembali. 

Kata-kata lagu itu, bercampur dengan kata-katamu, di masa-masa ketika semuanya terasa mudah dan menyenangkan. Itu yang membuatku menangis. Kenangan menyenangkan akan dirimu yang berusaha terus kusimpan dengan sepenuh cinta di dalam kotak benakku. Yang kadang-kadang kukeluarkan dan kupandangi lagi. Karena kenangan akan dirimu akan tetap seperti itu. Sebelum masa lalu menggulungnya menjadi gulungan amarah yang perlahan bangkit dari lubuk hatiku yang terjauh. 

Aku pernah berharap, bahwa kafe ini bukan kafe kita, hingga dapat kunikmati ketenangan dan kenikmatan kafe ini sendiri saja. Kini, aku terperangkap dalam kenangan akan kita, di kafe ini yang takkan bisa kuhapus begitu saja, sekeras apapun usahaku. Padahal saat-saat bersamamu hanya bisa kulihat di jendela-jendela kecil kafe yang menyajikan pemandangan hijau di luar, menempel di dinding-dinding dalam guratan-guratan kayu, dan melayang pelan di langit-langit di atas lampu gantung. 

Musik yang perlahan diputar oleh sang suami pemilik kafe, perlahan membasuh perasaan kebas yang kurasakan setiap kali aku memikirkanmu, dan membuat denyut jantungku kembali normal. Kuanggukkan kepalaku sedikit sambil memandang pemilik kafe. Nampaknya dia mengerti apa yang kurasakan, dia membalas anggukkanku dengan sedikit senyuman di bibirnya, lalu melanjutkan membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan salah satu pelanggannya.

Ingin kubisa mengatakannya dengan lantang agar kau bisa mendengar, apa yang kurasakan, apa yang sudah kau tinggalkan. Tapi hanya berakhir dalam gema suara dari lagu yang kini sedang terdengar. Bukan lagu kita, hanya lagu lain yang biasa. Hanya gemanya, seakan mewakili hatiku dan pikirku. 

Barangkali lagu kita, di kafe kita, inilah yang menguatkanku untuk menghadapi kenyataan. Atau barangkali lagu kita, di kafe kita adalah sumber kekuatanku untuk melarikan diri dari kenyataan.

 

—Ineke H—

 

 

Asap Putih

 

Kotaku berselimutkan asap putih yang tak nampak, tapi terasa sesak di dada. Orang-orang takut meninggalkan rumah, meski hanya sebentar. Mereka hanya berada di dalam rumah saja, karena hanya di dalam rumah, sang asap putih tidak leluasa masuk ke dalam, jadi mereka bisa bernafas dengan lebih lega dan leluasa. Hanya ujung-ujung asap yang bisa menerobos masuk dari celah-celah kecil di pintu ataupun jendela. Selebihnya asap itu hanya bergerak di luar rumah.

Asap putih itu menempel di pepohonan membuat pohon-pohon menunduk layu seperti keberatan beban. Mengalir di air sungai hingga mengubah air sungai yang jernih menjadi kusam berbau seperti susu basi. Bergerak menari mengikuti arah angin menyebarkan bau busuk seperti sampah basi. Bahkan burung-burungpun enggan terbang di langit kotaku, mereka memilih terbang jauh ke kota lain. Kehidupan perlahan berarak pergi dari kotaku.

Dari manakah asap putih ini berasal? Kata seorang tua yang bercerita padaku, “Asap ini berasal dari sebatang pohon yang sudah tersihir ilmu hitam, fitnah dan dendam, ditebang oleh seorang penduduk di kotaku. Apinya sudah lama padam, tetapi asapnya tak kunjung juga hilang ”

Orang tua itu pernah mampir sebentar di rumahku, sebelum asap putih menjadi demikian tebal seperti sekarang. Kami bercerita panjang lebar tentang kenikmatan hidup sebelum asap putih menguasai kota kami. Ketika kami masih bisa bebas bermain di taman, mengobrol dan tertawa. Kini, setiap orang hanya bisa memandang taman tempat dahulu kami bisa bercengkerama dengan tatapan kesal dan marah dari balik jendela rumah masing-masing. Setiap orang masih merindukan masa-masa penuh kebahagiaan ketika yang ada hanyalah cinta kasih dan bukannya asap putih yang menyebabkan sesak nafas.

Matahari siang yang bersinar terik tak mampu mengangkat asap putih jauh ke atas, dan hujan yang deras pun tak mampu mengusirnya. Asap putih ini asyik berputar-putar seperti pemabuk yang tak hafal jalan pulang.

Aku hanya bisa menatap tak berdaya dari balik jendela, asap putih yang tak kelihatan itu menutupi pokok-pokok mawar yang baru kutanam dua hari yang lalu. Segera saja pokok mawar itu tertekuk bagai ranting layu termakan rayap. Kupu-kupu yang biasanya sering mampir pun tak pernah kulihat lagi, mungkin mawar-mawarku kini sudah berbau busuk tak lagi berbau wangi.

” Apa yang sudah kulakukan hingga asap putih ini menelan kotaku?” batinku dengan tenggorokan tersumbat isak tertahan.

Kengerian perlahan turun menyelimuti kota kami, bagaikan kota mati. Aku membayangkan asap putih ini seperti sayap seorang malaikat maut yang lebar dan tercabik-cabik, yang terbang di atas kota kami, dan dari ujung sayapnya mengepul asap putih yang tak kelihatan tapi menyesakkan nafas. Menyapu setiap yang dilewatinya, manusia, hewan dan tumbuhan. Tak ada kecuali.

Bila ada orang yang berani keluar rumah, maka sudah dapat dipastikan dia takkan kembali lagi. Kesedihan yang besar akan dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkannya. Kota kami tak lagi memiliki kegiatan, sekolah dan tempat ibadah ditutup. Mereka hanya mau tinggal di rumah dan berkumpul dengan anggota keluarga. Menutup celah-celah yang sekiranya dapat membuat asap putih itu menerobos masuk.

Beberapa orang yang terpaksa menghirup asap putih yang bisa menerobos masuk dari celah yang tak tertutup akan menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Dia hanya akan diam dan menatap kosong di satu titik, atau kadangkala marah-marah pada hal-hal yang tak masuk akal. Asap putih itu sudah merusak bukan saja paru-parunya tapi juga otaknya. Hingga satu-satunya jalan adalah membiarkan dia yang sudah tercemar asap putih untuk pergi keluar entah kemana menembus asap dan tidak kembali lagi.

Entah sampai kapan kotaku diselubungi asap putih yang menyesakkan nafas ini. Aku hanya terus berharap dan berdoa agar asap putih ini segera pergi. Agar dapat kuhirup lagi udara segar berbau kembang dan tanah basah.  Agar dapat kurasakan kembali kedamaian dan ketenangan.

Semoga.

 

—Ineke H—