Aku sudah mengenal banyak orang,

kukira orang yang luar biasa adalah orang yang sudah terkalahkan, yang sudah mengalami berbagai macam kesakitan, yang sudah berjuang dengan seluruh daya upayanya, yang sudah kehilangan, 

lalu dia berhasil bangkit dari kejatuhan dan kesedihannya.

Dia akan memiliki pengertian besar akan kehidupan dan orang lain, memiliki kepedulian, dan kasih pada orang lain.

Dia lebih bijak dan lebih menghargai kehidupan.

 

Advertisements

Aku sungguh percaya pada karma,

perbuatanku yang baik dan perbuatanku yang buruk,

semuanya akan kembali lagi padaku,

seketika itu juga.

 

Pasti.

Dan aku hanya akan menunggu saja di tempatku sekarang,

membiarkan karma bekerja.

Waktu yang akan menjawabnya.

 

Sebongkah Dendamku

Sebongkah dendamku kularungkan ke laut, di atas sebuah rakit dari bambu yang kubuat sendiri dengan tanganku.

Tak lama, sebuah ombak membawanya ke tengah laut bergoyang-goyang, dipermainkan ombak yang kecil dan besar. 

Mentari yang panas memuaikan bongkahannya menjadi besar dua kali lipat dari semula.

Ada tawaran ciuman dari burung camar yang perlahan hinggap ingin tahu di tepian rakit, namun dia kembali terbang karena takut melihat bongkahan dendam mulai memerah darah.

Lalu ada cipratan perkenalan dari paus totol yang ingin mendinginkan panas yang memancar dari bongkahan dendam, namun dia tak acuh. Sang dendam keras kepala tak mau melumerkan sedikit baranya.

Di tengah laut ada pelangi indah yang ditawarkan oleh selendang tujuh bidadari yang sengaja turun untuk menghiasi kemuraman sang dendam. Tak mempan jua.

Dan malampun mulai turun menyelimuti sang dendam dengan selimut ketenangan dan keheningan, tapi masih saja terdengar desis dari bongkahan yang sekarang sudah menjadi besar tiga kali lipat.

Ketika pagi kembali menjelang, lidah-lidah api perlahan keluar dari dalam bongkahan dendam, mendesis dan berkeretak, membakar seluruh bongkahan lapis demi lapis, lalu api itu mulai membakar rakit yang telah membawanya ke tengah laut yang kubuat dengan tanganku sendiri, terbakar habis.

Seperti semua cerita, akan selalu ada awal dan akhir, ada yang dibuang atau terbuang.

Dari lautan yang menyaksikan dendamku menyala kemudian membakar habis rakit bambu, dengan mata baru yang terbuka, aku akan membawanya jauh ke langit, tempat dimana takkan ada lagi kesakitan dan duka.

 

 

 

Baju Jelek dan Robek Di Bagian Dada

Aku memakai kembali bajuku yang usang dan berlubang, jelek dan tua, baju yang membuatku gatal dan ruam.

Setiap hari kupakai baju itu, dan aku berharap aku memiliki baju lain yang dapat kupakai hingga aku akan terlihat lebih cantik.

Suatu hari baju jelekku robek di bagian dada dan kupikir akan sungguh memalukan jika aku terus memakainya.

Tapi tak kumiliki lagi baju lain pengganti baju jelek ini, maka kupakai lagi baju menyedihkan ini.

Aku terlihat seperti orang tak waras yang berkeliaran dengan baju jelek dan robek di bagian dada, mengundang simpati mereka yang melihatku, kukira aku dapat membaca pikiran mereka ketika memandangku, untung saja baju mereka tidak sejelek bajuku, begitu mereka berpikir tentangku.

Mereka tak pernah mengatakannya kepadaku bahwa bajuku jelek dan robek di bagian dada, barangkali mereka merasa tak nyaman bila mengatakannya padaku. Mereka pikir aku akan tersinggung alih-alih merasa sedih. 

Andai saja mereka pernah merasakan memakai baju jelek dan robek ini, pikirku dalam tunduk. Sekali saja mereka memakainya maka mereka takkan pernah dapat melepaskannya, pikirku lagi.

Tapi, ketika aku berjalan dengan memakai baju jelek dan robekku, aku mulai melihat di sekitarku, ternyata ada juga orang-orang lain  yang memakai baju jelek dan robek seperti punyaku. Mereka pun merasakan gatal dan ruam yang sama. Wajah mereka memerah menahankan gatal dan perih, sama seperti wajahku. Jalan mereka tertatih pelan, sama seperti jalanku.

Beberapa akan bertahan dalam ketidaknyamanan dan malu, beberapa lagi  tak acuh akan tatapan orang lain dan hanya memperhatikan ketidaknyamanannya sendiri saja, beberapa bertahan hanya karena tak ada pilihan lagi baginya, beberapa memang memiliki kekuatan untuk bertahan meski apapun keadaan yang dihadapinya, beberapa yang lain memilih meninggalkan dunia entah hanya jiwanya atau bahkan sekalian dengan raganya.

Kukira, tak seorangpun boleh memakai baju jelek dan robek ini. Tapi nyatanya, hidup tak memberikan banyak pilihan, bukan? Pilihan yang baik terutama.

Namun dengan memakai baju jelek dan robek ini aku menyadari kekuatan, yang sebelumnya tak pernah kusadari kumiliki. Tak pernah kusadari bahwa aku sekuat ini.

Dengan baju jelek ini aku dapat memasang wajah bahagia setiap hari meskipun aku menangis semalaman, dan aku dapat tetap tegak berdiri di tempatku berdiri sekarang.

Baju ini akan kupakai sampai di akhir hidupku, karena dialah kekuatanku ketika kehilanganmu.

 

 

Berapa Kali Lagikah?

Berapa kali lagikah mentari harus terbit sebelum dia takkan pernah terbit lagi?

Berapa kali lagikah bintang harus berkedip di malam hari sebelum dia takkan pernah berkedip lagi?

Berapa jauh lagikah jalan kehidupan harus dilalui sebelum seseorang paham arti kehidupan?

Berapa ombak di lautan yang harus diseberangi sebelum pelaut merindukan daratan dan bersyukur bahwa di daratan ada seseorang yang menunggunya?

Berapa banyak lagi peluru harus dimuntahkan dan mencabik kehidupan yang masih belia dan tak berdosa sebelum peluru dilarang untuk ditembakkan?

Berapa lagi kah orang harus mati demi keegoisan dan ketololan segelintir orang?

Berapa tahun lagikah pohon cemara tinggi akan tegak gagah berdiri sebelum rayap memakan akarnya dan menumbangkan batangnya jatuh ke bumi?

Berapa suara lagikah seseorang harus bersuara sebelum dia boleh didengar?

Berapa kebohongan lagikah yang harus dikatakan si pembohong sebelum dia menyadari bahwa dia adalah pembohong dan tak seorangpun mempercayainya?

Berapa janji palsu lagi kah yang harus diikrarkan sebelum si penjanji termakan janjinya sendiri?

Berapa lagikah kesombongan harus diucapkan oleh si sombong sebelum dia menyadari bahwa dia tak memiliki apa-apa yang selama ini disombongkannya, dan bahwa di atas langit masih ada langit?

Berapa kali lagikah orang akan memalingkan wajah dan berpura-pura tak melihat?

Berapa kali lagikah harus sebarkan fitnah sebelum akhirnya menyadari bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan?

Berapa kali lagikah harus menghakimi orang lain hingga akhirnya palu hakim itu akan diketokkan untuk dirinya sendiri?

Berapa kali lagikah kau akan menatap langit sebelum kau menyadari betapa birunya langit dan bersyukur karenanya?

Berapa lama lagikah waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendengar dengan segenap hati, sebelum waktu untuk hidup habis?

Mungkin aku takkan pernah tahu jawabnya, barangkali kau akan tahu.