Itu Dirimu

Secangkir kopi panas segar wangi di pagi hari dengan sesendok kecil gula.

Sekelompok burung bercuitan di dahan pohon menyambut sinar mentari pertama.

Guguran daun terkena angin kencang dan terbang bersamanya dengan riang, seperti berujar, hendak kau bawa kemana aku?

Teh yang diseduh dengan air panas dicampur madu dan setetes dua tetes jeruk nipis.

Atau segelas teh lemon manis yang dingin di tengah hari panas dengan es yang berkelontangan dan embun di sisi-sisi gelasnya.

Bintang fajar yang masih setia berkedip ketika mentari sudah sepenuhnya terbit.

Senyum bibi tua penjual jamu menyapa pagi dengan seruan khasnya, “Muuu jamuuu.”

Sepasang bebek mandarin berenang di kolam, sesekali menempelkan paruh dan sayap, berenang menjauh kemudian mendekat.

Di teras rumah, kala senja, kelelawar beterbangan memulai hari dan burung-burung kembali ke sarang menutup hari.

Lalu malam yang tak selamanya purnama, tapi selalu digantikan oleh hujan, yang titiknya berirama jatuh ke bumi.

Lonceng angin yang tak henti berbunyi bersama dengan angin yang bertiup lembut atau kencang.

Itu dirimu.

Advertisements

TEGA

Dengan sembilu, kutorehkan segaris luka di jantung yang sedang berdenyut, dan kuteteskan cuka di atasnya hingga luka itu berdesis ngilu, padahal kutahu jantung itu berdenyut hanya untukku.

Kusorotkan sinar menyilaukan menyilet pupil mata, membuat mata memicing sakit seperti guratan kuku di papan tulis, padahal kutahu mata itu hanya tertuju untukku.

Kucetak pikiran tentang kecemburuan, kesombongan dan iri hati agar pikiran itu menjadi luluh lantak dan penuh dengan ulat pikiran negatif hingga tak ada lagi kesempatan untuk berbaik sangka. Padahal kutahu pasti pikiran itu hanya tertuju untukku dan hanya untukku.

Kukeluarkan segala kata-kata tak baik dan tak layak dari mulutku yang begitu tak enak didengar telinga, dan sesungguhnya terasa pahit di lidahku. Padahal kutahu pasti, untukku mulut ini hanya mengatakan yang baik-baik saja.

Kumasukkan segala bau-bauan tak sedap untuk mengotori paru-paruku hingga nafasku tersengal dan bau ini menetap bersamaku sepanjang hari, juga di mimpiku, membuatku terbangun berkeringat dingin. Padahal kutahu pasti, paru-paru ini bernafas hanya untukku.

Kutepiskan tangan yang terulur untuk memelukku dengan hangat dan dengan marah kuhalau tangan itu, padahal aku tahu pasti betapa senangnya aku dipeluk, melepaskan segala keresahanku dan bersandar pada kekuatan yang lebih besar.

Mengapa kulakukan semua ini? Kujawab ringan dengan jawaban seadanya, karena aku tega.

Apa yang telah membekukan khayalanku menjadi keras seperti arang?

Di sini aku berdiri memandang awan putih gemuk bergulung-gulung pertanda menyimpan angin dan memikirkan kekuatan yang disembunyikannya bila saatnya nanti dia muntahkan, melaju bersama badai menyapu segala yang ada di bawahnya.

Aku melihat kokohnya batu hitam berdiri tegak tak tersentuh kabut. Pongah tapi sendiri.

“Mungkin dia hidup tanpa cinta yang membuatnya kokoh keras tapi kesepian, bagaikan bunga mekar tapi tak harum. Hampa.”

Aku melihat laut yang biru menggelora dengan sedikit sinar mentari menari di atasnya, sekumpulan burung layang-layang terbang rendah.

Suara yang menggema dalam hatiku menyuarakan kata yang tak pernah bisa kuucapkan.

Ketiadaan cinta adalah jawaban nya.

Kapal

Kali ini takkan kulaju kapalku, dan kubiarkan hanya mengikuti arus,

memandang jauh,

Bagaimana jika angin malam memerangkap kapalku dan membuatnya terus mengapung ke laut dalam?

Kecemasanku tak beralasan, karena di sekitarku masih ada alang-alang yang muncul dari dalam air, pertanda sungai tak dalam.

Saatnya aku merebahkan kepala, melepaskan cemas dan tidur.

Biarkan

Hujan mulai turun lagi dengan derasnya dan mungkin kali ini hujan akan berlangsung lama tak kan segera reda, membasuh semuanya,

takkan lagi ada tangisan di sisa mimpi, yang akan membangunkan tidur, selamanya,

hanya akan kututup mataku setiap kali untuk bisa bersamamu, di bawah curah hujan dan angin dalam kenyamanan dan kedamaian yang akan selalu diingat,

memandang langit dan kilatan petir, sesekali terkejut, tapi tak ada kecemasan dan kegalauan,

biarkan berlalu, biarkan yang baru, berhenti berpura-pura,

waktu yang takkan pernah berhenti, bertambah tua dari hari ke hari, berlalu bagai angin, 

sesaat hanya sesaat itu, kulemparkan semuanya pada angin dan hujan, membawanya tinggi ke angkasa dan hilang dari pandangan.