Tentang Takdir

Berhembus takdir yang akan menentukan langkah, seperti bunyi burung cuit yang sudah menghitung akhir dengan berputar-putar di atas atap rumah. Semua sudah pasti. Tinggal pandai-pandailah menggunakan hari demi hari.

Kenangan lalupun sudah tergulung oleh untaian air mata dan sesal yang tak berkesudahan, dengung alarm nurani yang selalu mengisyaratkan dan lalu diabaikan setiap saat, meski logika mengatakan ya hati ngotot mengatakan tidak.

Telah disiapkannya gundukan kisah yang ditulis dengan darah dan hela nafas satu-satu bersama dengan makam kosong tempat nantinya dikuburkan sebuah duka yang dibungkus kebohongan tak kasat mata dan di atasnya ada ketegaan yang mengherankan.

Hingga mentari dan bulan takkan pernah bersinar lagi karena tertutup oleh awan mendung penuh dengan kesedihan dan kedukaan. Perjalanan panjang kedukaan yang sepi dan tak terbantahkan, hanya dapat hilang bersama terucapkannya sebuah nama. 

Meski doa tak lelah diucapkan, hingga hati demikian patah dan tak ingin lagi bergantung pada apapun.

Sederhananya sebuah hati diperumit oleh waktu hingga hilang sudah kesederhanaan yang didambakan sejak dulu dan dipercayai sebagai kekuatan.

Hanya satu yang pasti tentang takdir, bahwa bila takdir sudah ditentukan, maka terjadilah, meski dengan menjalani kesakitan dan kehampaan.

Advertisements

Jika hidup sudah menakdirkan demikian maka terjadilah demikian, jadi marilah kita berlayar bersama menjalani apa yang sudah ditakdirkan.

Kapal milik kita akan senantiasa dihantam gelombang kehidupan, kadang gelombang setinggi bukit membawa kapal ke atas lalu tiba-tiba terhempas kembali membuat kita mabuk, kadang gelombang kecil yang mengayun-ayunkan kapal hingga kita terlena dan tertidur di bawah panas matahari yang menyengat.

Terkadang ayunan gelombang membuat kita terkenang akan kenangan-kenangan manis yang akan membuat kita kuat menghadapi gelombang tinggi berikutnya.

Takkan pernah terasa mudah karena memang tak mudah. Tapi kita akan bertumbuh bersama dalam kebersamaan.

Yang kita perlukan hanyalah berusaha untuk tetap di permukaan dan tidak tenggelam, tetap berpegangan tangan, sampai di akhir nafas kita.

 

 

 

 

 

 

 

Mendekatlah kemari, kau yang menemaniku sepanjang hidupku, jangan biarkan angin musim hujan yang dingin mengisi celah di antara kita. Namun bila angin itu sudah menyelinap, mari kita nyalakan api, agar rasa dingin itu pergi karena, hanya apilah yang dapat memberikan kehangatan melawan dinginnya angin musim hujan kali ini.

Berceritalah padaku tentang segala yang telah terjadi, yang tengah kau pikirkan, yang kupikirkan, yang kita pikirkan. Jangan kau lupakan juga untuk menceritakan betapa luasnya hatimu mencintaiku. 

Kuncilah pintu, sebab dinginnya angin di luar membuat hilang semangatku. Lambaian daun-daun pepohonan di luar yang menggila, membuatku menggigil ketakutan. Bunyi angin yang menderu membuat pikiranku memikirkan hal-hal mengerikan.

Biar kupandang wajahmu, ketika kau bercerita tentang kehidupan, yang ramah ataupun tak ramah.

Jiwa-jiwa kita yang berduka akan disatukan karena kesamaan kita, seperti dua orang asing yang bertemu di negara antah berantah, hati disatukan dalam kemuliaan ketulusan dan kebahagiaan.

Dan biarlah api berkeretak hingga padam pada akhirnya, lalu kita akan berdiam diri menikmati keberadaan masing-masing, karena ada yang lebih besar, lebih tulus dan lebih murni daripada kata-kata yang diucapkan.

Keheningan menjadi milik kita. Karena dalam keheningan, kita menemukan cinta.

Hidup membawaku dari satu kejadian ke kejadian lain, takdir mengajakku berlarian dari satu waktu ke waktu yang lain, rintangan dan halangan menjatuhkanku dari saat ke saat, memaksaku untuk jatuh berlutut tak berdaya.

Kebahagiaan menghadirkan dirinya dalam keheningan yang hanya dapat kurasakan ketika kulepaskan semua nafsu, kesombongan dan keserakahan.

Dan kedatangan cinta yang lembut, bersembunyi dalam kegelapan atau berlalu di depan mataku dengan segala kegenitannya, membuatku bermimpi akan kehidupan yang lebih baik dan menyenangkan, atau beban pikulan cinta membuatku terbungkuk terengah menggenggam jantung yang berdarah.

Kebingaran kota membuatku takut dan bergegas lari ke kampung untuk mencari keheningan, dan hanya ditemani bunyi air mengalir atau bunyi lonceng angin yang berdenting mengikuti kecepatan angin. 

Ada suara-suara yang berseru-seru di telingaku mengajakku untuk menyembunyikan kesadaranku dan menggantikannya dengan kegelapan, bagai mentari yang dibujuk untuk terbenam oleh sang malam.

Hatiku menyeru pertolongan pada siapapun yang mendengar, tapi tak ada seorangpun yang memahaminya, hanya percik air hujan yang mulai turun membasahi wajahku dan membuatku menggigil.

 

 

Peperangan sudah dimulai.

Senapan sudah terisi.

Sang Bijaksana sudah kalah.

Lalu yang miskin tetap miskin.

Dan si kaya semakin kaya.

Begitulah yang terjadi, dan tak seorangpun dapat mengubahnya. 

Hati terpatahkan.

Kesombongan menjadi tameng.

Suara tak lagi didengar.

Keadilan sudah menjadi langka.

Kenyamanan menjadi demikian mahal, meski hanya mendambakan sebuah pelukan.

Tapi begitulah yang terjadi.

Kau hanya dapat mencari kebahagiaan di dalam dirimu sendiri.

Karena di luar sana sudah tak ada lagi kebahagiaan.