Akan selalu ada ruang untukku, jiwaku akan datang untuk melihat hati yang retak, seperti sudah diharuskan untuk perjalanan ini.

Awan yang kesepian melayang pelan, tapi sekaligus lega karena bebas.

Aku tahu kemana harus pergi meski dalam kabut, dan di antara pepohonan yang kering karena kemarau.

Andai saja bisa kunyanyikan lagu yang dulu sering kunyanyikan, tapi kini hanya akan menimbulkan kesedihan.

Namamu muncul sebelum wajahmu, kita pernah berbincang tentang malam yang berganti pagi, disadarkan oleh bunyi lonceng.

Besok adalah besok, yang ada hanyalah saat ini.

Advertisements

Mana

Tak ada kata pertama, tak pernah, kisah ini hanya sebuah kisah dari banyak kisah dunia, tak berarti, tapi sungguh berarti.

Mungkin aku masih bermimpi akan menemukan akhir, sebuah pantai yang indah dengan lambaian daun kelapa seperti di lukisan, dengan sisi gunung sebagai hadiah.

Kumohon lupakan saja asa yang sudah pernah bertunas, yang lalu diinjak oleh kejamnya kaki-kaki kebohongan dan kesombongan, yang juga tak berhasil kupahami hingga hari ini, meski aku bersusah payah untuk paham.

Lalu aku bertanya, “Manakah yang disebut awal dan akhir?”

Bahkan alampun tak lagi memberikan keajaibannya, hanya kekeringan dan bau tanah yang lama tak terkena hujan, semua bersekongkol untuk tak memberiku asa. Membentur kabut.

Barangkali yang ada hanyalah waktu.

Setelah Tahun Berlalu

Ada saat yang tertangkap ketika saat bahagia, dalam warna abu-abu karena termakan usia, kedua pasang mata yang tertutup, meresapi rasa yang takkan kembali lagi, menyimpan keagungan sebuah hati yang takkan pernah berubah.

Segala rasa syukur pada apa yang dimiliki dan rahmat pada rasa memiliki, perjalanan dan pendakian yang melelahkan dan menguras energi, sekaligus mengajarkan bahwa akan selalu ada dua air mata yaitu air mata kesedihan dan air mata bahagia, dan itu tak apa-apa dalam kehidupan.

Tak pernah kehilangan kepercayaan atas segala keganjilan dan keanehan kehidupan, dan ketika melalui segalanya, tetap merasakan kasih dan kekuatan yang baru, yang takkan pernah dipertanyakan karena tak pernah meragukan.

Kenangan manis yang takkan pernah terhapuskan bahkan oleh waktu.

Kekuatanmu yang membuat kekuatanku ada, karena takkan ada lagi yang ditakutkan. Malam dan pagi.

Dan setelah tahun berlalu, bahkan ketika ditinggalkan, kepercayaan saling memiliki akan selalu berdiri di atas segalanya.

Kiraku

Ketika dia mekar, dia bukanlah bunga, jadi tak bisa kunikmati keindahannya.

Diselimuti kabut yang ternyata bukanlah kabut karena masih bisa kulihat dengan jelas.

Kira-kira pada tengah malam dia datang, mengambil hampir semuanya, menyisakan hanya sedikit.

Lalu pergi dengan entengnya bersama datangnya mentari pertama.

Kukira tadinya dia adalah mimpi, karena tak bisa tinggal, seperti semua mimpi yang lenyap ketika jaga membangunkan tidur.

Atau mungkin dia awan yang tersisa dari malam kemarin, yang segera hilang ketika pagi datang dari balik bukit.

Kuil Tua Di Atas Bukit

Aku tiba di kuil tua di atas bukit di pagi subuh ketika mentari pertama baru saja kelihatan,

terlihat pucuk pohon yang tinggi melambai dari pinggir jurang dalam cetakan sinar mentari yang masih belum sempurna,

langkahku melawan angin yang bertiup kencang menuruni bukit, langsung membawaku ke kedalaman permenungan,

kibasan jubah kepala biara nampak di sudut mataku, menyisakan ketentraman dan kedamaian hanya dengan sekelebat hadirnya,

seekor burung rajawali menjerit di langit sana, kemudian diam karena hinggap di pohon tinggi di balik bayangan bukit,

lalu perlahan segala bunyi-bunyian hilang, hanya bunyi nafasku yang terengah dan detak jantung yang berdebar,

sesaat kemudian, bunyi lonceng kuil terdengar sayup, menandakan saat doa dimulai.

Bening dan hening.