Cinta Sejati

 

love flowerr

Cinta sejati bukanlah cinta yang ada di film atau sinetron.

Cinta sejati adalah kau dan aku yang tetap bersama hingga usia tua dan ajal menjemput.

Bersama semenjak belia, mendaki kehidupan yang tak ramah.

Membesarkan anak-anak.

Kehilangan buah hati.

Kesederhanaan hidup yang dilalui.

Tawa dan tangis.

Dan tetap bergandengan tangan sampai akhir.

Karena cinta takkan pernah meninggalkan dia yang disayang.

Dan cinta tak mengenal perpisahan.

 

 

—Ineke H—

Cerita Sedih

 

Di sini dulu ada sedih terancang yang sudah ditorehkan di langit siang dan langit malam, jangan harap untuk hilang bersih tak bersisa, kadang ada keriaan yang muncul mencoba merobek selaput bening tapi tak tertembus, hanya kilatan-kilatan sesaat yang tak bertahan lama.

Pernah ada sepasang lengan kuat yang memeluk dengan penuh kasih, melegakan kesedihan karena tak lagi ditanggung seorang diri. Merayu dengan kalimat-kalimat ajaib yang melenakan dan membuai bagai tertidur di atas awan-awan empuk. Berharap menyembuhkan luka-luka yang ada dan menjadikannya hanya parut tersembuhkan. Tapi nyatanya hanya sekedar penambah jumlah luka tertoreh.

Kebiasaan ada si penghilang kesedihan yang hanya ada sesaat lalu bergegas pergi seperti laku penipu di malam hari, yang hanya datang ketika tak ada yang terjaga.

Sejumlah tanya yang mengharapkan jawaban tapi tak pernah ada jawaban, lalu dicarinya kesana kemari seperti kesetanan, mengusik mimpi di malam hari dan menghadirkan tangisan panjang bernada sesal. 

Darah yang mengalir di pembuluh darah adalah darah suci pencinta yang tak pernah dinodai oleh sesal dan khianat, meski tragis menyertai setiap denyut yang terasa.

Mungkin ada bintang jatuh malam ini yang menyertai bunyi guntur di kejauhan. Lalu berbagai kisah yang ingin diceritakan hanya berakhir dengan torehan kisah sedih. Dan meneteskan air mata di setiap mata yang mendengarnya.

 

—Ineke H—

 

 

 

 

Berbagi Cerita

 

Wajahku mulai tertutup keriput, perjalanan panjang kehidupan yang telah kulalui perlahan terperas keluar dari rongga dadaku. Hingga mungkin nanti tak lagi bersisa. Yang ada hanyalah kumpulan doa-doa yang disenandungkan dalam hati penuh kasih yang terisak di sekelilingku.

Mari duduk dulu di sisiku dan mari kita bertukar cerita tentang masa-masa yang telah lalu dalam keindahan malam ini. Ketika bintang-bintang berkedip dan bulan bersinar penuh. Tahukah kau, bintang memerlukan satu tahun untuk dapat mekar sempurna?

Ditemani bunyi serangga malam dan gonggong anjing di kejauhan, kegelapan malam menjadi tak terlalu sunyi.

Mari kita kumpulkan arti dari semua yang sudah kita jalani bersama dan mengingat kembali janji-janji yang belum tergenapi, dan berandai-andai bila masih ada waktu tersisa hingga dapat digenapi semua janji yang terlanjur terucap. 

Mari merangkai semua kenangan manis dan hanya kenangan manis, tempat-tempat indah dan bukan kebohongan yang dulu juga sempat terucap.

Menghadapi hantu-hantu masa lalu yang masih mengejar dengan mulutnya yang hitam kosong, merayu untuk mengikutinya dalam kesedihan dan kekecewaan yang pernah disodorkan oleh kehidupan. Dan mulut hantu itu perlahan mengucapkan kata, mengapa?  Yang diulang-ulang bagai litani.

Di sela-sela cerita, masih kulihat wajah mudamu yang tampan yang pernah menenteramkan hari-hariku hanya dengan melihat senyummu dan mendengar sapamu.

Baiklah kita mengikhlaskan saja sesal dan marah yang ada, hingga hatiku dan hatimu bersih dan tulus lagi tanpa kebencian dan kemarahan. Biarlah hanya kasih yang menyelubungi kita malam ini hingga habislah cerita yang ingin kita bagi, dan kita akan tersenyum bahagia lagi.

 

—Ineke H—

Kriik kriiikkk

 

Kriik kriiik…

Aku mendengar suara dari otakmu yang tak henti berpikir. 

Berhentilah berpikir karena terlalu banyak berpikir akan membuatmu menjadi cemas.

Akan membuat masalah yang terjadi terlihat lebih buruk, lebih menyedihkan dan lebih mengecewakan.

 

Kriiik kriiikkk….

Hey, berhentilah berpikir.

Dengarlah saja hati nurani mu berbicara, dialah yang akan menuntunmu ke arah yang benar.

Berpikirlah ketika kau akan mengambil keputusan tapi jangan terlalu lama memikirkannya, setelah kau memikirkannya segera lakukan dan jangan pikirkan lagi.

 

Kriiik kriiiikkk….

Masih kudengar otakmu berpikir.

Ayo beristirahatlah, buang pikiranmu sejenak, duduklah dalam keheningan dan bernafaslah.

 

Mari, bernafas saja denganku…. dalam keheningan.

 

 

—Ineke H—

 

 

 

 

Yang Tersayang

 

Kentongan dipukul tiga kali dan aku masih belum juga bisa lelap, masih saja aku duduk di mejaku dan masih memegang pena untuk menuliskan surat untukmu, namun kertas di hadapanku hanya baru tertulis, Yang tersayang, karena memang begitulah kau di dalam hatiku. Tapi selanjutnya tak ada lagi kata-kata yang dapat kutuliskan.

Beribu kata ingin kutuliskan padamu, namun tak satupun dapat kutuliskan. Kata-kata itu bagai beterbangan dengan sayap-sayapnya yang putih kecil, mengitari kepalaku. 

Barangkali karena aku tahu, menuliskan apapun padamu hanya akan menyakitiku, membuatku seperti tercekik dan tak ada yang dapat melegakannya. Dulu, ketika aku tak perlu menulis surat padamu, kau akan selalu menemukan cara untuk menenangkanku, menghilangkan rasa tercekik di dadaku dan menerbangkan keluar kupu-kupu yang ada diperutku. Kau dengan mudahnya membuatku mengeluarkan kata-kata yang tengah kupikirkan menjadi rangkaian kalimat indah. Kau memang se ahli itu bagiku.

Kuberharap jari-jariku dapat memiliki pikiran dan gerakan sendiri, hingga mereka dapat menuliskan apa yang kurasakan dan kupikirkan di surat ini untukmu. Kata-kata yang menyala mewakili hatiku untukmu, hingga akhirnya bisa membangunkan mentari untuk menyuguhkan pagi.

Kuberharap waktu akan berhenti seperti aku menahan nafasku. Agar dapat kutuliskan sesuatu untukmu.

Kau mungkin takkan pernah tahu betapa pentingnya apa yang akan kutuliskan untukmu. Yang dulu begitu mudah kukatakan ketika aku tak perlu menulis surat untukmu.

Nyatanya jam masih terus berdetik, dan tulisanku hanya masih, Yang tersayang, tak ada yang lain. Barangkali akhirnya hanya cukup dua kata itu saja yang kutulis, lalu surat itu akan kukirimkan padamu, karena dua kata itu sudah mewakili semua tentang dirimu di hatiku.

 

—Ineke H—