Kata-kata barangkali sudah tak bermakna lagi seperti bulan tak bermakna menjelang pagi, cahayanya sudah usang digantikan oleh kemegahan mentari yang meski baru muncul segaris namun sudah menyilaukan. Keheningan pagi kini menggantikan kesunyian malam karena yang menemaniku hanya bunyi desau angin ketika kubuka jendelaku. Suaraku hanya bisa kau dengar bila kau mau mendengar.

Ke arah Timur kulayangkan pandangku dan kupejamkan mataku membayangkan senyummu. Bersama detik waktu yang berjalan perlahan bila kutunggu dan berjalan cepat bila kuabaikan. Seperti itulah maknamu untukku.

Pada hembusan angin dan rintik hujan kubisikkan inginku yang barangkali didengar di semesta sana. Oh, sungguh ingin kumenjadi nyata.

Dan di sini aku berdiri menatap ke danau di bawah sana, dari riak-riaknya kutahu ada kehidupan di dalamnya, seperti riak di hatiku yang di permukaan terlihat tenang tapi bergejolak di dalam sana menantikan yang sungguh kunantikan.

Sayangku, bila kesunyianmu melahirkan harapan baru, biarlah aku menunggu hingga aku tak merasa sunyi lagi.

 

 

 

 

Advertisements

Dear Kehidupan

Dear kehidupan,

Betapa ajaibnya ketika kusadari bahwa aku tengah mengantri untuk mati. Ketika aku masih muda aku merasa bahwa aku memiliki begitu banyak waktu, hingga waktu yang ada kusia-siakan, melakukan hal-hal bodoh, melakukan banyak kesalahan, merasakan waktu takkan berakhir untukku, bekerja dan mencapai apa yang kupikir kucita-citakan. 

Ketika yang tersayang pergi meninggalkanku, kesadaran tentang kematian sekaligus kehidupan, menghantamku dengan keras dan membuatku terkapar dalam kesadaran tingkat tinggi, bahwa waktu yang kumiliki sangatlah terbatas. Aku harus menata hidupku sesuai dengan yang kuinginkan, tidak lagi mempedulikan hal-hal yang tidak penting ataupun yang membuatku susah, tidak lagi membuang waktuku untuk apa dan mereka yang tak sepatutnya menerimaku.

Kini kusadari betapa setiap saat dan setiap tarikan nafas adalah berharga, setiap senyuman dan sepercik kebahagiaan adalah indah, betapa wanginya bunga-bunga yang kutanam dan kuhirup setiap pagi,  betapa mengharukannya setiap kebaikan dan kepedulian yang diberikan untukku atau untuk orang lain dari orang yang tidak dikenal. Semua kejadian adalah berharga, semua orang adalah berharga dan semua yang mencintaiku dan kucintai adalah berharga.

Akhirnya kusadari aku harus berhenti mencari yang tak seharusnya kucari, berhenti mengejar jawaban dari pertanyaan yang tak memiliki jawaban, berhenti mengejar apa yang memang takkan menjadi milikku, berhenti mencintai dia yang tak mencintaiku, semakin bijak menghadapi segalanya, menyadari dengan kesadaran sesungguhnya bahwa aku harus hidup sehidup-hidupnya.

Inilah hadiah dari  kehilangan-kehilanganku. Hadiah terbesar dari kehidupan.

Berbaik hatilah denganku di waktuku mengantri mati, wahai kehidupan. Terima kasih.

ASA

Tadi kulihat pelangi di ujung danau, kuberlari ke ujungnya karena katanya di ujung pelangi ada seember emas, yang akan kuambil untukmu agar kau tak lagi meributkan masalah uang nyatanya tak ada seember emas, bahkan tak ada apapun di sana.

Kulihat lambaian selendang bidadari yang turun dari langit ke tujuh bersama teman bidadari lain, kuikuti lambaiannya agar bisa kurebut selendangnya dan kuselampirkan di lehermu agar kau bisa selalu berkata jujur dan tidak lagi mengatakan kebohongan, namun bidadari itu terbang sangat cepat, membawa sekalian selendang indahnya tak sempat kuambil, hingga masih tinggallah kau dan kebohonganmu.

Kulihat langit terbuka di atas kepalaku dan bintang-bintang bertaburan bagaikan hamparan pasir emas, ada nama-nama bintang yang harusnya bisa kuingat, tapi malam ini otakku kosong, tak ada yang kuingat satupun. Dan sebuah bintang jatuh bergerak cepat, hingga bila tak ku tengadahkan kepalaku, niscaya aku takkan melihatnya. “Cepat kau ucapkan keinginanmu.” Sebuah suara berbisik terdengar di telingaku. Cepat-cepat aku berbisik untuk mengucapkan keinginanku. Dan masih sempat kulihat ujung bintang jauh di langit. Untunglah.

Dan jika kulihat ke Timur sepanjang mataku bisa memandang, ada lambaian helaian ribuan daun bagaikan permadani sekaligus tirai yang akan membawaku kepadamu, atau barangkali hanya asaku saja hingga aku tak lagi dapat melihat dengan jernih.

Lalu perlahan kubisikkan penyesalan yang hanya dapat kudengar sendiri,” Harusnya tidak begini, tapi kau menginginkannya begini.”

 

 

 

 

Kosong

Menunggu terjadinya apa yang harus terjadi dan akan terjadi meski dicegah untuk tidak terjadi adalah kehampaan yang tak kunjung juga terisi.

Hari kosong, waktu kosong, wajah kosong, mata kosong, lalu sedikit asa yang kembali dijejalkan pada kekosongan seperti takkan pernah habis tenaga untuk memompakan kekosongan ke dalam diri ini.

Coba ajaklah aku masuk ke dalam hatimu, barangkali hatiku ini masih bisa bersemu lagi seperti sebelum aku bertemu dengan kekosongan dan kehampaan.

Tak usah kau khawatir, akan menyakiti hatiku, karena hatiku sudah terlalu sakit hingga tak mungkin lebih sakit lagi, kesakitan yang mengosongkan setiap sel di hatiku.

Kukira masih ada sedikit riak dari sisa ombak dan satu kupu-kupu yang menggetarkan sayap koyaknya perlahan, tapi nyatanya tak ada lagi.

Meski jemariku masih merasakan jemarinya.

Atau barangkali aku sudah muak pada kata-kata nanti dan jika.

 

Apa Lagi yang Kau Harapkan Dari Hidup

Apa lagi yang ada di pikiranmu? Racun tipu yang mematikan, atau sumpah serapah ketidakadilan dunia, atau siapa lagi yang ingin kau kambing hitamkan untuk kesengsaraan dan kekecewaanmu. Kulihat keningmu masih berkerut dan otakmu terus saja berpikir tanpa henti. Tik tok tik tok.

Sudahkah kau bercermin pagi ini? Wajahmu atau kah wajah yang tak kau kenali yang kau lihat di cermin? Karena kerutan kecemasan dan ketidakpuasan semakin banyak menguasai wajahmu yang dulu rupawan. Wajah yang tak lagi dikenali oleh dia yang mencintaimu.

Bukankah sudah kukatakan, hidup ini takkan hidup bila tak ada masalah. Dan jika maut masih lama menjemput, maka masalah harus dihadapi. Karena ada jarak yang harus kita lewati di antara sekarang dan kematian, yaitu hidup. Lalu kenapa kau terus berpikir?

Baiklah kita berjalan terus, menuju akhir. Bila kau ingin kutemani, maka akan kutemani, dan akan kubantu kau dengan beban beratmu, dan kumohon berhentilah berkeluh kesah.

Atau kau ingin berjalan sendiri dan tak ingin kutemani, maka kuminta kuatkanlah dirimu. Karena inilah hidup, apalagi yang kau harapkan dari hidup?

 

 

 

 

Kepada Yang Tak Bernama

Kuingat wijaya kesuma yang wangi di jam duabelas malam, ataukah kenanga dan kemboja yang baunya tercium dari jendela kamarku, ataukah itu melati dan mawar yang mewangi ketika kudekatkan hidungku pada kelopaknya, atau barangkali bunga lain yang tak pernah kuketahui namanya yang wanginya mengingatkanku padamu.

Ataukah bau tanah basah terkena air hujan, atau kabut pagi yang membawa sedikit wangi belerang, atau bau sinar matahari yang menempel di rambut dan bajuku, dan bunyi hujan yang berkelontangan di atap seng, yang membuatku selalu menoleh dan menghirup nafas sekuatnya, lalu menyimpan sebentar sebelum kuhembuskan dengan sekali sentak, menghilangkan sakit di dada yang perlahan timbul hingga akhirnya menguat, menusuk.

Namun, aku tetap setia pada yang telah terjanjikan, meski kelam begitu tebal membungkus hingga tak mungkin tertembus oleh cahaya.

Lalu kudengar suara-suara yang awalnya pelan lalu berubah makin keras dan akhirnya tak tertahankan bagai denging menyakitkan setelah mendengar bunyi senapan yang meledak, seperti bunyi tik tok jam tapi begitu keras, hingga kukira telingaku akan berubah menjadi lelehan lilin atau pecahan kaca. Mulanya tak kumengerti kata-kata yang terlontar dan berulang, perlahan semakin jelas, “Cukup ya cukup, tidak lagi.”

Barangkali kata-kata itu sudah membawaku ke arah yang baru dan benar, yaitu nuraniku.

Pasti Itu Kau

Kaukah itu yang membisikkan namaku di keheningan pagi yang sakral, membangunkanku dan meniupkan aroma cinta yang memenuhi kamarku pagi ini?

Kaukah itu yang memelukku ketika kuterbangun dari  tidurku yang terganggu oleh hantu-hantu yang berkejaran dan berteriak-teriak memekakkan telingaku, tak melepaskanku hingga gemetar di tubuhku hilang, dan melap keringat dinginku dengan ujung jarimu dan perlahan mencium kelopak mataku hingga aku kembali pulas tertidur?

Kaukah itu yang membantuku kembali bernafas dan mengembalikan irama jantungku ketika kesedihan besar menimpaku membuatku sesak nafas dan hidupku hancur berkeping-keping dan lalu membantuku kembali menata kepingan-kepinganku untuk kembali utuh?

Kaukah itu yang membantuku mengurai benang kusut kecemasan, keputus asaan, ketidak bahagiaan yang ada di kepalaku, hingga kutemukan lagi ujung benang yang nantinya akan kuulur hingga tak ada lagi kekusutan?

Kaukah itu yang meminjamkan baju zirahmu agar dapat membentengiku dari kebohongan, janji-janji palsu, kemunafikan, ketidak adilan dan ketidak masuk akalan dari dunia ini?

Kaukah itu yang selalu dapat menemukanku di tengah keramaian ?

Kaukah itu yang selalu dapat membaca pikiranku, keinginanku hingga aku tak perlu lagi menyelesaikan kalimat yang ingin kukatakan? 

Kaukah itu yang selalu dapat menghiburku dan membuatku tertawa?

Kaukah itu yang kulihat di sisa hari, yang kuceritakan dan menceritakan hari-hari yang telah berlalu dan yang menutup pintu rumah kebahagiaanku dengan aku dan kau di dalamnya?

 

Ya, kau.