Semoga cinta yang ada hanya untukku saja,

hingga aku terberkahi dengan segala kebaikan dan terjauhkan dari segala kejahatan,

ketika aku melangkah langit menaungiku dengan awan biru yang cerah, mentari dan bulan sepanjang hari menemaniku,

dedaunan dari pepohonan akan memayungiku bila panas menyengat, memberikan udara yang segar untukku bernafas,

bebatuan menyingkir dari langkahku agar aku tak tersandung,

doa dan cinta hanya untukku, dan dengan pelan disebutkan dalam setiap doa, dalam hening,

kata-kata cinta yang bertebaran bagaikan debu terkena sinar matahari, berubah menjadi keemasan,

kepakan sayap kupu-kupu dan capung bagaikan tirai perlahan melambai,

kelopak bunga menaburi jalan, menemani lelahku dan sesekali menghapus tetes air mata, membuat mimpi yang pernah hilang kembali hadir, tapi kali ini serasa nyata,

sebentar lagi malam menggantikan siang dan lalu berubah lagi menjadi malam,

dan semoga cinta yang ada hanya untukku.

Advertisements

Sedih

seperti berlari mengharapkan sebuah pelukan hangat tapi kedua tangan ini hampa

pantai mengeruh, ombaknya perlahan sampai ke pantai lalu balik ke lautan, menyisakan jejak ombak dan pasir yang terseret setengah lingkaran, ada sisa-sisa sampah yang rusak atau masih utuh

duduk di teras melihat hujan sore menjelang malam, udara menjadi dingin, menggigilkan badan, jauh di dalam hati ada yang dingin menjerit, menanti bintang yang biasanya sudah terbit tapi kali ini terhalang oleh mendung

ada jeda sunyi ketika tidak ada suara hujan, angin dan kicauan burung, senyap menyisakan permenungan akan kefanaan

terdengar bunyi guntur menggelegar mengoyak kesunyian mengembalikan realita, dan mengaburkan mimpi lalu kabut perlahan mulai turun menyelimuti segala

hari-hari berlalu saja, tak pernah berhenti dan takkan juga menunggu, lalu dibiarkannya segala pergulatan dan pergolakan terjadi di dalam hari terkadang menjadi jejak-jejak masa lalu yang agung atau bahkan menjadi memalukan, tak kan pernah tahu

matahari sebentar lagi akan terbit dan memunculkan cahaya oranye yang menghias langit dan membangunkan ayam yang langsung sibuk berkokok, dia sudah merasakan hangat yang membangunkannya dari tidur

hari baru di tahun baru dan hujan kembali turun membawa bau lembab tanah dan membuat kemuning kembali mekar, wangi

matahari terbit dan terbenam, bulan terbit dan terbenam, sisa hujan di tapak kaki, datang dan pergi, sebagai satu jalinan harmoni yang indah, yang berarti saling ketergantungan satu dengan yang lain, ada yang satu maka ada yang lain, tak ada yang satu dan tak ada yang lain

gambaran akan harapan yang pernah hinggap di dalam dada, hanya sesaat lalu hilang dan berganti dengan kehampaan

Sesudah Hujan

sesudah hujan lebat masih menyisakan gerimis, mendung yang tadinya berat menggantung di langit, hilang, tapi langit masih diselimuti mendung abu-abu tipis, menandakan nanti masih akan ada hujan

sore yang sepi diselingi oleh bunyi angin yang menyentuh dedaunan seperti musik dari jauh, bunga melati dan kenanga terangguk diberati oleh titik air pada kelopaknya, jatuh ke bawah kelopak lain yang sudah mulai bertunas lagi

daun salam yang berjatuhan seperti daun emas terserak di jalanan, ada yang sendiri ada yang bergerombol, menyisakan keagungan masa lalu dan keanggunan masa kini

kicauan burung yang terbang kembali pulang, terasa damai karena akhirnya mereka sampai di tempat yang aman, bayangannya mengabur tinggi di awan dalam remang senja

ada seekor kupu-kupu yang hinggap di salah satu besi pagar, sambil menutup dan membuka sayap indahnya seakan menikmati sisa hari atau mungkin berbangga hati karena sudah berubah dari ulat menjadi kupu-kupu cantik

angin perlahan membuai air sungai yang mengalir dari hulu jauh di sana, sesekali berdeguk membawa ranting dan daun yang ikut hanyut bersamanya, tenang dan tak peduli

taman-taman kembali sepi, kursi-kursi yang menghadap ke danau sekarang kosong, bebauan tercium dari arah danau, bau amis disertai bau senja yang menguning bersamaan dengan tenggelamnya mentari, membawakan harapan akan hari esok yang takkan ada lagi kesedihan

lalu bulan perlahan naik memberi bayang-bayang memanjang di atas air, perahu terayun tak berpenumpang dayungnya teronggok di dasar perahu, menunggu

setitik cahaya seperti dari api unggun dan di atasnya asap perlahan naik dengan malasnya di atas bukit sana, sisa hujan masih menetes dari langit yang berubah kelam

bunga Wijaya Kesuma mulai mekar menyebarkan wangi yang magis, bukankah setiap mekarnya bunga membawa kebahagiaan dan rasa yang lebih baik

di malam ini ketika hujan sudah berhenti, takkan ada lagi kesedihan seperti hari-hari yang berlalu, di setiap langkah yang ditapaki, akan selalu ada yang berubah

Kemarahan yang sama bagai kanker stadium lanjut, membutakan mata batin dan memerahkan kedua mata, hingga tak tahu lagi arah kemana ingin berjalan, bahkan jejak darah itu menetes-netes di sepanjang jalan yang dilalui.

Bagaimana bisa mengobati kanker marah ini jika sedikit demi sedikit layar terbuka dan mempersembahkan kenyataan?

Tetes-tetes darah ini bukan berasal dari hati yang terluka atau yang berpasrah tapi berasal dari lidah yang tersobek sendirinya oleh kebenaran yang menggeliat tak sanggup menahankan diri lagi.

Kemudian sang bintang fajar turun ke bumi dan berkata pada sang lidah yang selalu berbohong, “Bisakah kau hentikan segala kebohonganmu? Jangan berbohong lagi. Waktumu tak selamanya berada di alam yang hidup.”

Lalu dia naik lagi ke langit, mengawasi.

Sedangkan hati yang sudah patah takkan kembali utuh lagi.

Mimpi

Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sama. Sekelompok orang berkumpul membentuk lingkaran, mereka tertawa-tawa menghina sambil menunjuk-nunjuk aku yang berdiri di tengah dan tertunduk tak berdaya, kau ada di sana, tak melakukan apapun, hanya menatapku dengan pandangan yang kosong, seakan tak pernah mengenalku. Bunga-bunga melati yang putih berubah menjadi merah darah dan perlahan setetes darah menetes dari masing-masing kuntumnya. Langit berubah dari biru gelap menjadi oranye terang seperti mentari enggan terbenam. Lalu aku pun terbangun dalam kuyub keringat, nafas tersengal dan jantung berdebar hingga terdengar di telingaku sendiri.

Akupun menghela nafas dan membatin, “Untung hanya mimpi.”

Semakin hari mimpiku semakin panjang, selalu dimulai dengan adegan yang sama tapi berakhir dengan aneka macam akhiran. Semakin rumit dan tak terpahami. Bahkan kadang-kadang tanpa akhir, atau tanpa cerita yang bisa kumengerti. Hingga hanya beberapa kilasan saja yang bisa kumengerti, tawa yang menghina itu, matamu yang kosong, langit yang berubah warna dan tetes darah dari kuntum melati. Selain itu yang tersisa hanyalah kesedihan dan kekecewaan yang tinggal ketika aku terbangun dan mengakhiri mimpiku.

Seperti ada tugas yang tak terselesaikan, atau aku melupakan sesuatu ketika meninggalkan rumah, atau ada yang mencurangi aku tapi aku tak dapat berbuat apa-apa, atau seperti rasa gatal yang terasa tapi tak bisa digaruk karena aku tak tahu dimana asal rasa gatal itu, seperti tantangan dengan mata tertutup aku masih harus berkegiatan seperti biasa. Terasa kurang, terasa kosong tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Terpasung.

Mungkin karena aku bersibuk diri dengan segala macam pikiranku sendiri, atau nuraniku yang sedang berusaha memperingatkanku akan bahaya, firasat tak enak yang menyebabkan rasa mual di perutku. Bukankah nuraniku yang seharusnya kudengarkan karena itulah gunanya nurani?

Malam ini ketika hendak beranjak tidur, dan bersiap untuk mimpi yang sama yang akan datang lagi, aku bertekad untuk dapat menerima semua hinaan yang dilontarkan dan mengikis habis segala kebencian yang sudah bertunas di hati mereka dan membiarkan nuraniku mengubah segalanya menjadi sumber kebahagiaanku hingga aku dapat ikut tertawa bersama lingkaran orang yang menunjuk-nunjuk dan menertawakanku, hingga aku tidak lagi menjadi aku yang berdiri di tengah, tapi aku menjadi bagian dari lingkaran itu, akan kugandeng tangan-tangan mereka yang ada di sisi kanan kiriku. Dan akan kutatap dengan kepala tegak masing-masing mata yang menatapku.

Lalu akan kulihat bagaimana reaksimu, apakah matamu tetap kosong ataukah akan terbelalak dalam tanya?

Dan mungkin saja aku takkan terbangun lagi di tengah tidurku yang resah.

Permenunganku

Mendung sudah bertunas lagi di awan, angin pun masih pontang panting meniup ke sana kemari.

Aku lelah, ingin mengistirahatkan pikiran sejenak. Menghitung hari. Mengusap titik air mata, menahan beban duka. Mengejar harap.

Menapaki jalan perjalanan yang panjang, berliku dan berangin. Berteguh hati agar tidak tersesat.

Permenungan yang sampai pada titik putus asa, bahwa aku masih bertahan hidup untuk yang hidup, dan kukira aku masih harus menunggu untuk bersamamu lagi.

Hujan dan Malam

Hujan yang aku cintai sudah tak ada lagi, hanya ada hujan yang kusuka yang bukan karena, malam yang kucintai juga sudah tak ada lagi, hanya ada malam yang kusuka dan juga bukan karena. Terjadinya tepat ketika berpindahnya kegelapan menjadi terang benderang, mengubah hati menjadi keras seperti batu.

Aku membangun dinding kemurkaan tinggi, dan dengan tak sabar kusebarkan bubuk kebencian bersama makin tingginya dinding itu berdiri.

Cinta yang pernah sungguh kucintai sebenarnya tak pernah ada, hanya halusinasi yang menemaniku di hari-hari lalu. Yang salah kukira.

Aku memang akan kembali di satu hari nanti, namun aku sudah tak sama dengan aku yang lalu, aku hanya ingin menunaikan kewajibanku yang dulu pernah dijanjikan bersama, yang lalu diingkari, mencoba mematikan harap yang tak pernah berhasil, meski dengan latar belakang hujan dan malam.

Kemudian hujan dan malam kini hanya sebagai selingan di hari yang penat.