Hujan Senja Hari

daun-daun pohon salam terangguk berat didera hujan dan buahnya yang merah-merah kecil berjatuhan menyampah di aspal yang basah

melati, kenanga dan kemuning menjatuhkan bunga nya wangi bagai tak berguna, padahal harusnya ingin kuletakkan di meja doaku

pohon-pohon bambu menunduk menggila lalu berayun ke sana sini, tak lagi membunyikan suara merdu gesekan daunnya

burung-burung beterbangan panik mencari tempat aman agar tak perlu lelah membentangkan sayapnya di tengah hujan

bentangan kabel listrik berayun dan berayun sambil sesekali saling menempel kemudian terpisah lagi

genteng-genteng berkelontangan membunyikan bunyi deraan air hujan yang menjanjikan kesejukan

kaki kanak-kanak berkecipak menginjak genangan air menembus hujan agar segera bisa sampai di rumah dan memeluk ibunda mencari kehangatan

taman yang biasa kudatangi mendadak sepi tak ada lagi gelak tawa lepas dan dengung pembicaraan karena semua lari menghindar hujan

jalan basah menghitam

bangau dan angsa yang berenang riang sebelum hujan, kini pergi berlindung dan menyisakan bulu-bulu yang mengapung

matahari sudah lama menghilang dan aku menunggu bulan di tengah hujan karena sudah senja

Advertisements

Percaya

Kepercayaan yang sudah dari dulu dimiliki dipeluk dalam kebahagiaan dan kepatuhan meski hari berganti minggu dan minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Mereka menertawakanku, tapi jiwaku masih begitu ingin memeluk percaya meski reruntuhan di depanku sudah menunjukkan arah kemana jiwaku harus berpaling. Sudah pernah kususun kembali yang akan menunjukkan arahmu padaku hanya padaku. Susunan yang hanya akan dimengerti oleh jiwaku dan jiwamu. Tapi mulutmu dan lakumu melahirkan kesedihan yang mengalir jauh ke dalam hatiku. Memenuhi mangkok cintaku dan mengalir di setiap denyutan jantung membuatku tak bisa merasakan apapun lagi. Aku masih ingin tersenyum di segala musim mu, dengan cara yang sama seperti musim-musim yang lalu. Tapi kini dalam suasana hati yang tak lagi sama dan tak lagi kuketahui. Kau serasa sama dengan semua orang yang berhadapan denganku, yang pernah hadir dan akan hadir di musim ku. Lalu ketika sesaat tadi aku merasakan kecemasan ku hilang karena setelah sore  berubah menjadi malam, kisahmu sudah tak  lagi tajam, dan lidahmu yang tak bertulang sudah bertulang bagiku. Lidah yang begitu lama merongrong kepercayaan yang sedianya sudah ada sedari dulu.

 

 

 

 

Setelah ini apa?

Kejujuran selalu ada di sana, bersama nafas yang dihirup dan dihembuskan.

Hidup sepenuhnya berjalan di atasnya, hanya jika berada dalam keheningan.

Lalu usia didewasakan oleh dosa yang begitu sombong disuarakan meski hati kecil berkata jangan.

Dikenakan dengan kebanggaan, padahal tahu segalanya akan ada akhirnya.

Sesaat bahagia, lalu terbanting dalam nestapa, sungguh.

Mungkin perlu ku ingatkan lagi, akan tak adanya keabadian?

Pada akhirnya aku hanya mencoba untuk mengerti.

Perjalananku

Adakah lagi yang masih mau mendengarkan cerita tentang perjalanan ini, yang dinyanyikan bersama hembusan angin yang mampir di daun-daun yang sarat dengan embun hingga tertunduk, disapa oleh lambaian nyiur di pinggir pantai, yang mencipta bayang-bayang menari bagaikan tangan-tangan lentik penari, lalu mampir di jalanan sepi kota yang dulu pernah dilalui dengan penuh bahagia, mengobrol tentang bulan dan cinta yang tak pernah habis

Lihatlah, mata polos  yang mendengarkan dan berharap akhir yang bahagia, mengusung sejuta kisah dalam balut bahagia dan tawa meski tahu bahwa semua yang dikatakan hanya seperti menabur garam di laut, dan disambar oleh angin puting beliung yang marah menggelegar membawa kapal-kapal nelayan karam menabrak karang

Di jalanan sepi ini masih kulihat daun yang layu tertiup angin terbang kesana sini tak tentu arah, dan sebuah batu yang dengan tabahnya berada di sana menentang dingin dan panas, masih mengukur kedalaman malam yang paling gelap, bahwa di sana masih akan ada bintang mewakili nurani, lalu akankah pergumulan ini mencapai akhirnya meski sudah diketahui bagaimana, seberat sebuah pesan yang menjadi jelas setelah sekian lama diketahui dan diabaikan bagai tangan-tangan maut, dingin dan kejam

Di sepanjang jalan perjalanan ini yang tadinya ada bisikan cinta lalu perlahan menua dan menghilang.

Senja dan Hujan

Aku pencinta senja dan hujan, menikmati setiap sinar jingga yang perlahan memudar menjadi gelap dan setiap tetes air hujan. Kesedihan ternyata telah membuatku menjadi diriku yang sekarang, yang tak tersentuh dan kadang tak terlihat. Yang membuatku terbaring di tebaran rumput dan bunga kenanga. Melayang sebentar dan jatuh kembali. Bersamaku berbaring para arwah yang memelukku dalam kedamaian yang tak pernah henti mereka tawarkan, mendengungkan nyanyian di telingaku serasa angin yang dingin.

Lalu ada dentingan lonceng angin mengundang hujan yang sengaja kupasang di sudut-sudut rumah, yang menemani percakapan malamku dengan diriku sendiri, memeriksa batin, menjadi lebih bertanggung jawab dengan hidup. Dan mencurahkan nestapa pada semesta yang akan disajikan kembali padaku dalam piring emas dan hiasan bunga beraneka warna yang wangi, hingga tak terasa kulalui dalam hipnotis wanginya. Tetes air mata yang ditangkap oleh titik hujan pertama, lalu mengalir bersama menuju tanah yang nantinya akan menjadi sumber air kehidupan, yang tak habis dihisap oleh akar-akar pohon yang daunnya rimbun menghijau. Warna kehidupan.

Dulu hatiku adalah istana yang didiami oleh kasih dan sayang tanpa rasa benci lalu perlahan kesepian dan kesedihan menemaniku yang menjadikan pilar-pilarnya perlahan digerogoti untuk menjadi rapuh. Aku menjadi lupa untuk tertawa, dan istanaku terinjak-injak oleh jejak lumpur yang berasal dari orang-orang asing yang menertawakanku dengan tawanya yang bagaikan decit rem mencicit menyakitkan telinga.

Senja dan hujan lah yang membawaku untuk kembali memeriksa diri dalam perenungan mendalam, membaca hatiku sendiri yang hanya bisa dibaca ketika aku dalam keheningan total, seperti ketika kau menyelam di dasar laut dalam, yang bisa kau dengar hanya keheningan. Lalu selapis demi selapis diri terbuka dalam kepasrahan dan ketenangan yang selalu ada di sana. Hingga kutemui lagi sumber kekuatanku yang berada jauh di dalam, tetap di sana.