Candle-Burning

Ingin kulihat matamu dan akan kukatakan,

” Aku ingin lihat matamu.”

Advertisements

Dariku Diriku

Setiap dariku adalah diriku;

Diriku yang halus dan lembut, tak kan pernah terpikirkan sesuatu yang kasar dari tersurat maupun tersirat.

Karena bagiku, aku berkata pada cahaya bulan yang melankolis dan gampang tersinggung;

Yang sedikit saja ada kekasaran, mendung dan lalu hujan akan segera menutup cahaya bulan yang hanya segaris. Lalu hilang.

Seperti permata yang tersembunyi, senantiasa kusimpan;

Yang pada saatnya nanti akan kuperlihatkan kilau cahayanya.

Biarlah bertumbuh bagai tunas kemuning;

Yang nanti akan dirangkai dan dihirup wanginya oleh yang lain, karena dirimu tak pernah mengerti keharumannya.

Lukisan yang Tengah Dilukis

 

Di hadapan selembar kertas kosong putih, pikiran mengembara sedari semalam penuh dengan ide dan inspirasi garis-garis dan lengkung-lengkung. Menggambarkan sebuah cerita lengkap tentang perjalanan sebuah kisah yang tak pernah akan selesai selamanya.

Cat air dan cat minyak berjejer rapi dalam kelompok warna menunggu terpilih sebagai warna yang akan dijadikan lukisan. Warna merah dan hijau menari gembira karena yakin hari ini akan menjadi warna pilihan. Si coklat berdiam diri di pojokan karena kemarin dia sudah bekerja sepanjang hari. Sedangkan ungu hanya bersedih karena dialah yang menyisipkan setarik kesedihan dalam setiap lukisan. Nestapa. Kuning membayangi ingatan bagai sengatan silau mentari di mata yang terpejam.

Dengan segala upaya dilukiskannya kemarahan, kemunafikan, kebohongan yang sudah mengerubutinya bagai semut mengerubuti gula. Agar hilang sudah semua kepalsuan. Jalinan warna dan sapuan cat bagai peredam marah, tangis, sumpah serapah dan putus asa. Juga sapuan warna abu-abu bagai menarikan rasa bersalah.

Gelegak emosi yang keluar bagai barisan lahar panas yang menuruni lereng gunung, membakar semua yang dilewatinya. Lalu berubah menghitam menyisakan gelembung merah di dalamnya. Sesekali percikan api melambung keluar. Bagai berseterunya warna-warna dalam lukisan berjudul Dendamku Terbayarkan kemarin.

Sudah terjepit kuas di ujung jari, perlahan melayang dalam keheningan. Mewakili jiwa yang terus mencari. Bersama wangi kemenyan yang menemani.

Ketika selesai, yang terlukis hanya warna hitam. Kelam.

—Ineke H—