Aku Adalah Diriku Sendiri

Aku adalah aku dengan berbagai alasanku, aku tetaplah aku.

Aku bahagia menjadi diriku.

Aku hidup dengan diriku karena dengan dirikulah aku akan selamanya bersama.

Kukira, aku takkan mengubah diriku demi dirimu.

Jadilah dirimu seperti dirimu. Tapi yang terbaik saja dari dirimu.

Seperti diriku, menjadi yang terbaik dari diriku.

Selebihnya, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.

Advertisements

Cerita Pohon

Pohon besar, tinggi dan tua, terbaca dari guratan-guratan melingkar di batangmu, menceritakan segala yang telah kau lihat, tangan-tangan yang pernah menyentuhmu, 

kau sudah melihat banyak, bahkan terlalu banyak

dari pagi hingga sore dari siang hingga malam, kau terus berdiri dalam diam, menyerapnya dalam setiap pori serat kayumu, 

kau sentuh masa silam, masa kini dan masa yang akan datang karena kau sudah ada sejak tujuh puluh ribu tahun yang lalu, kesepianmu kegembiraanmu berlalu bersama waktu yang tak pernah mau berhenti

ribuan tetes air mata barangkali sudah diteteskan oleh peziarah yang mengirimkan doa melaluimu kepada Sang Penguasa Dunia, dan getar tawa ucapan terimakasih kau dengarkan dari mereka yang doanya dikabulkan

dari sebuah rekahan kecil di batang mu, tergema lah nama-nama, wajah-wajah, sumpah serapah, dendam kesumat, sihir-sihir dan segala yang mungkin dikerjakan demi mencapai yang diinginkannya

barangkali di helai-helai daunmu ada restu dan berkat dari para tetua, atau cerita cinta sejati yang berakhir bahagia atau berakhir duka, cerita pengkhianat yang penuh dengan kelabang dan kalajengking, kesombongan koruptor yang tak tersentuh hukum

lalu kau ditinggalkan dalam diam, tapi tak lama, lalu akan datang lagi mereka yang tak kau kira ingin melakukan apa

sore ini kulewati dirimu yang masih berdiri tegak dengan urat-urat kayu terukir begitu indahnya di sekujur tubuhmu, berdiri di depanmu dalam sikap hormat, kukagumi sesaat dan lalu kuikrarkan sebuah janji, janji yang hanya dapat didengar olehmu, janji yang akan kupegang seumur hidupku

dan kau tetap di sana membuka dirimu dalam keanggunan dan kekokohan.

 

 

 

 

Gema

 

Berdiri di dekat curug seribu yang menyemburkan air seperti marah, menciptakan pelangi di sisi-sisi nya, bagaikan hiasan pohon natal yang berwarna-warni.

Tak bersuara, tak ada satu katapun, hanya bunyi air yang menghantam bebatuan. Menggemakan semua perasaanku yang kubiarkan mengalir keluar dari seluruh pori tubuhku.

Hanya pikir yang berpacu bersama denyut jantungku. Pikir dan pikir tanpa henti. Tersembunyi dan diam, semua muncul kembali.

Rasaku selama ini selalu ada di sini, tertutup oleh kebohongan demi kebohongan yang meracuni darahku. Padahal mereka telah berteriak sekeras mungkin.

Mendapatkan kejujuran kiranya sudah tak lagi mungkin, karena dia sudah ditinggalkan sendiri.

Hanya gema nya yang memantul balik kepadaku dan mengatakan yang sebenarnya, yaitu kebenaran yang takkan pernah kau katakan padaku.

Sejak Aku Tak Pernah Tidur Lagi

 

Sejak aku tak pernah lagi tidur, tak pernah kulewatkan pagi yang membuatku menggigil, dimana embun perlahan turun bersama kabut. Menempel di ujung daun dan kelopak bunga yang menghadap ke Timur, tempat matahari akan terbit nanti.

Aku akan menanti sinar mentari pertama bersama kicau burung pertama dan kokok jago pertama.

Adakah yang lebih hening dari keheningan sempurna pagi buta? Yang hanya dapat dirasakan oleh dia yang tak lagi berakrab dengan lelap. Suatu kemewahan.

Dan adakah wangi murni sewangi bunga kenanga dan kemuning yang membuatku seperti tersihir dalam ketenangan dan kedamaian.

Lalu ada lambaian bisu dedaunan yang seakan memanggilku dalam kenangan akan bunyi daun bambu yang saling menggesek, bunyi yang sungguh kusuka.

Aku segera menyimpan semua saat yang akan segera hilang ketika mentari sudah semakin tinggi.

Engkau mungkin takkan pernah menikmati pagiku lagi, tapi pagi ini masih milikku.

 

 

 

Menimbang Lamaran

 

Menimbang lamaran seperti meletakkan gula-gula manis di depan pintu, maka berbarislah semut yang hitam dan yang merah, berjalan rapih sambil saling menempelkan antena di kepalanya untuk mengabari yang lain, bahwa ada makanan lezat di depan sana. Mereka sungguh konsentrasi hanya pada tujuannya yaitu kenikmatan.

Atau seperti menebar doa, dalam litani yang diulang-ulang, dengan wangi dupa dan bunga setaman, serta tak lupa senandung nyanyian dalam nada yang menenangkan, maka doa akan didengar oleh malaikat yang akan disampaikan pada Tuhan, Sang Maha Pencipta yang akan dikirimkannya dia yang berwajah dan berhati malaikat.

Atau bagaikan petani yang menyebar benih, menggemburkan tanah hingga cacing-cacing menggeliat kesenangan, membelai tunas bagai anak sendiri. Menadah hujan untuk persediaan minum bagi benih yang mulai bertunas. Menggoyangkan tali panjang terulur dengan kaleng-kaleng bergantung mengusir hama dan pemangsa benih. Memupuk dengan pupuk nomer satu. menyiangi alang-alang benalu. Lalu akan tumbuhlah padi dengan biji-biji kuning yang gemuk, merunduk keberatan. Dan di akhir musim akan terhidang nasi pulen wangi menerbitkan selera.

Atau bagaikan tukang pembangun rumah, menggali pondasi kuat agar tahan badai dan banjir, menumpuk bata tinggi ke atas dengan hitung-hitungan yang jitu, memoles, menyambung, menyambung atap dan akhirnya berdirilah rumah megah tempat siapapun yang berdiam di dalamnya akan merasa tentram, damai terlindungi.

Atau bagaikan nelayan yang ingin mendapatkan ikan besar yang dagingnya empuk lezat, kau harus membuat umpan yang lezat pula, bukan umpan ikan teri yang kecil dan bukan pula umpan ikan mati yang berbau busuk. Nantinya pancingmu akan terlalu berat untuk kau tarik bila umpanmu tepat.

Atau akan menimbang lamaran dari kemewahan emas permata yang kau gosok dengan hati-hati seperti menjaga nyawamu sendiri. Kau pamerkan dengan segenap kesombongan, kepala tegak dan dada dibusungkan, lalu berteriaklah sang emas untuk memancing penonton. Tanpa disadari kesombongan itu mengundang pencuri yang datang malam-malam mengambil semua emas permata dan meninggalkan kekosongan yang benar-benar kosong.

Atau menimbang lamaran dengan bermodal kata-kata yang meluncur dari lidah tanpa rem, berbohong dan berdusta, menutupi kelemahan dengan kemarahan, menebar kebencian dan angkara murka. Mengatakan apa yang harus dia lakukan karena kau sudah melakukannya, padahal kau tak melakukannya. Membuat tipu-tipu dan menebar mimpi-mimpi yang takkan pernah menjadi kenyataan. Dan bila kebohongan terungkap, maka akan ditutupi dengan kebohongan baru yang semakin hebat, hingga satu hari kau akan memakan kebohonganmu sendiri. Tenggelam dalam kebohongan yang kau buat sendiri dengan tega hati.

Atau seperti perenung yang gemar hidup dalam keheningan dan tapa batin, hingga hanya bunyi hati nya sendiri yang bersuara. Menuntun dalam kasih dan sayang yang akan menghiasi hidupnya dalam kesederhanaan dan penerimaan hidup. Dunia yang hanya dilihat dalam kenyataan dan bukan mimpi.

Cinta yang seharusnya bertumbuh seperti pohon dengan akar menusuk jauh ke dalam bumi dan ranting menjulang ke langit.

 

 

 

Kutata Kebunku

 

Kutata ulang kebunku yang dulunya indah,

kupotong beberapa ranting yang layu,

kupupuk lagi dengan kotoran kambing,

kugemburkan lagi tanah merah hingga cacing-cacing menggeliat,

kusiangi rumput-rumput benalu tak berguna,

kurapihkan pot-pot yang berserakan.

Senja datang dan malam mulai mengintip, masih juga tak bisa kuselesaikan tataanku,

esok masih akan kutata lagi,

hingga menjadi indah seperti semula,

supaya nanti ketika kau datang, 

kau akan tinggal lebih lama di taman ini.