Mimpi

Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sama. Sekelompok orang berkumpul membentuk lingkaran, mereka tertawa-tawa menghina sambil menunjuk-nunjuk aku yang berdiri di tengah dan tertunduk tak berdaya, kau ada di sana, tak melakukan apapun, hanya menatapku dengan pandangan yang kosong, seakan tak pernah mengenalku. Bunga-bunga melati yang putih berubah menjadi merah darah dan perlahan setetes darah menetes dari masing-masing kuntumnya. Langit berubah dari biru gelap menjadi oranye terang seperti mentari enggan terbenam. Lalu aku pun terbangun dalam kuyub keringat, nafas tersengal dan jantung berdebar hingga terdengar di telingaku sendiri.

Akupun menghela nafas dan membatin, “Untung hanya mimpi.”

Semakin hari mimpiku semakin panjang, selalu dimulai dengan adegan yang sama tapi berakhir dengan aneka macam akhiran. Semakin rumit dan tak terpahami. Bahkan kadang-kadang tanpa akhir, atau tanpa cerita yang bisa kumengerti. Hingga hanya beberapa kilasan saja yang bisa kumengerti, tawa yang menghina itu, matamu yang kosong, langit yang berubah warna dan tetes darah dari kuntum melati. Selain itu yang tersisa hanyalah kesedihan dan kekecewaan yang tinggal ketika aku terbangun dan mengakhiri mimpiku.

Seperti ada tugas yang tak terselesaikan, atau aku melupakan sesuatu ketika meninggalkan rumah, atau ada yang mencurangi aku tapi aku tak dapat berbuat apa-apa, atau seperti rasa gatal yang terasa tapi tak bisa digaruk karena aku tak tahu dimana asal rasa gatal itu, seperti tantangan dengan mata tertutup aku masih harus berkegiatan seperti biasa. Terasa kurang, terasa kosong tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Terpasung.

Mungkin karena aku bersibuk diri dengan segala macam pikiranku sendiri, atau nuraniku yang sedang berusaha memperingatkanku akan bahaya, firasat tak enak yang menyebabkan rasa mual di perutku. Bukankah nuraniku yang seharusnya kudengarkan karena itulah gunanya nurani?

Malam ini ketika hendak beranjak tidur, dan bersiap untuk mimpi yang sama yang akan datang lagi, aku bertekad untuk dapat menerima semua hinaan yang dilontarkan dan mengikis habis segala kebencian yang sudah bertunas di hati mereka dan membiarkan nuraniku mengubah segalanya menjadi sumber kebahagiaanku hingga aku dapat ikut tertawa bersama lingkaran orang yang menunjuk-nunjuk dan menertawakanku, hingga aku tidak lagi menjadi aku yang berdiri di tengah, tapi aku menjadi bagian dari lingkaran itu, akan kugandeng tangan-tangan mereka yang ada di sisi kanan kiriku. Dan akan kutatap dengan kepala tegak masing-masing mata yang menatapku.

Lalu akan kulihat bagaimana reaksimu, apakah matamu tetap kosong ataukah akan terbelalak dalam tanya?

Dan mungkin saja aku takkan terbangun lagi di tengah tidurku yang resah.

Advertisements

Telah kulakukan semua yang inginmu kulakukan, semua katamu semua pikirmu, dan aku telah memasuki jiwamu dan berdiam di sana dengan tenangnya. Aku adalah dirimu, karena persatuan yang takkan pernah bisa dipisahkan oleh siapapun. Dadaku adalah tangismu, dan tanganku adalah pelindungmu. Dan aku akan selalu mencintaimu seperti aku mencintai hujan. Bukankah hujan membuat segalanya menjadi lebih baik?

Aku telah hidup di dalam dirimu semenjak nafas pertama yang kau hirup, meski kau tak pernah menyadarinya. Aku senantiasa menyenandungkan namamu seperti denting lonceng angin, aku juga menyanyikan jiwamu yang tengah resah hingga tenang lagi seperti laut setelah gelombang pasang.

Aku akan selalu mengingatmu seperti peziarah yang merindukan kidung mazmur menenangkan jiwa, nantinya jiwamu takkan pernah kelaparan lagi. Aku adalah masa keemasanmu, keabadian yang kuciptakan untuk jiwa ragamu.

Permenunganku

Mendung sudah bertunas lagi di awan, angin pun masih pontang panting meniup ke sana kemari.

Aku lelah, ingin mengistirahatkan pikiran sejenak. Menghitung hari. Mengusap titik air mata, menahan beban duka. Mengejar harap.

Menapaki jalan perjalanan yang panjang, berliku dan berangin. Berteguh hati agar tidak tersesat.

Permenungan yang sampai pada titik putus asa, bahwa aku masih bertahan hidup untuk yang hidup, dan kukira aku masih harus menunggu untuk bersamamu lagi.

Hujan dan Malam

Hujan yang aku cintai sudah tak ada lagi, hanya ada hujan yang kusuka yang bukan karena, malam yang kucintai juga sudah tak ada lagi, hanya ada malam yang kusuka dan juga bukan karena. Terjadinya tepat ketika berpindahnya kegelapan menjadi terang benderang, mengubah hati menjadi keras seperti batu.

Aku membangun dinding kemurkaan tinggi, dan dengan tak sabar kusebarkan bubuk kebencian bersama makin tingginya dinding itu berdiri.

Cinta yang pernah sungguh kucintai sebenarnya tak pernah ada, hanya halusinasi yang menemaniku di hari-hari lalu. Yang salah kukira.

Aku memang akan kembali di satu hari nanti, namun aku sudah tak sama dengan aku yang lalu, aku hanya ingin menunaikan kewajibanku yang dulu pernah dijanjikan bersama, yang lalu diingkari, mencoba mematikan harap yang tak pernah berhasil, meski dengan latar belakang hujan dan malam.

Kemudian hujan dan malam kini hanya sebagai selingan di hari yang penat.

Di Hari Itu Lagu Itu Mati

Di hari-hari lalu, lagu itu pernah membuatku tersenyum dan melamun, menyenandungkan liriknya dan bernyanyi bersamanya. Sesekali menggoyangkan kepala sambil memejamkan mata. Membuatku bahagia.

Tapi pada hari tertentu, hanya satu hari itu di hari lalu, hari yang dingin menggigil karena hujan yang tak berhenti semalaman dan karena ada sesuatu yang dingin masuk dan menyentuh ke dalam hatiku, membuatku mati rasa. Lagu itu mati.

Dan untuk pertamakalinya aku mulai mempertanyakan cinta dan pengorbanan, kejujuran dan cinta kasih.

Itu terjadi ketika aku mendengarkan lagu itu, yaitu lagu yang selalu membuatku tersenyum dan bahagia.

Lagu yang seharusnya membuatku terbiasa.

Tapi di hari yang dingin dan hujan, lagu itu telah mati, dan bersamanya mati juga arti hujan untukku.

Kucari Dirimu Untuk Bersamaku

Kucari dirimu untuk bersamaku, karena bersamamu, kami akan menghias hari dan membuat waktu bagai tak berjalan, atau malahan berjalan sangat cepat, aku sungguh tak tahu pasti lagi. Aku juga tak peduli.

Kucari dirimu untuk bersamaku, karena bersamamu, hatiku tak lagi kosong, kau isi dengan kelebihanku yang tak pernah kusadari kumiliki.

Kucari dirimu untuk bersamaku, karena bersamamu ada tawa ria kebahagiaan, meski dalam kesedihan kau bisa mengubahnya menjadi tawa, karena sedih dan tawa tidaklah tetap, kau bisa mengubahnya hanya dengan bersamaku.

Kucari dirimu untuk bersamaku, karena bersamamu aku menemukan fajar hari dan nafas kehidupan.

Kebenaran dan Ketulusan

Yang menarik hatiku kini hanyalah kebenaran dan ketulusan, di tengah hiruk pikuk dunia, dan di tengah kebencian dan caci maki. Ketika kutemukan kebenaran dan ketulusan aku merasakan bulu kudukku meremang, denyut jantungku melambat karena ada sebentuk sinar yang keluar dan berusaha memeluknya untuk kusimpan dalam kenanganku.

Kebenaran dan ketulusan tak pernah terlihat, tak pernah berteriak, mereka selalu sunyi, selalu dalam bayang-bayang yang bila tak ku perhatikan dengan jelas maka dia akan lenyap begitu saja. Mereka dimulai hanya dari diriku sendiri, jauh melampaui segala yang nyata dan tidak nyata.

Setiap harinya aku disedihkan oleh keanekaragaman sifat manusia, membuatku bingung dalam ketidakpercayaan. Terpuruk dalam harapan yang jarang bisa timbul.

Mengapa bukan kebenaran dan ketulusan yang diimani alih-alih kebohongan dan kemunafikan yang dihamba seperti raja dihati?

Mungkin hanya hati yang bersih yang dapat memahaminya dan tumbuh bersamanya dalam harmoni keindahan.

Aku merasakan sensasi kehangatan yang mengalir setiap kali kujalani tapak kebenaran dan ketulusan, yang barangkali memancar juga dari wajahku.