Peperangan sudah dimulai.

Senapan sudah terisi.

Sang Bijaksana sudah kalah.

Lalu yang miskin tetap miskin.

Dan si kaya semakin kaya.

Begitulah yang terjadi, dan tak seorangpun dapat mengubahnya. 

Hati terpatahkan.

Kesombongan menjadi tameng.

Suara tak lagi didengar.

Keadilan sudah menjadi langka.

Kenyamanan menjadi demikian mahal, meski hanya mendambakan sebuah pelukan.

Tapi begitulah yang terjadi.

Kau hanya dapat mencari kebahagiaan di dalam dirimu sendiri.

Karena di luar sana sudah tak ada lagi kebahagiaan.

Advertisements

Pelakon

Kau katakan sedih, tapi sedihmu tak selamanya. Karena kulihat kau tertawa terbahak.

Kau katakan kau gundah, tapi kulihat kau sedang melucu dan membuat orang di sekitarmu tertawa.

Kau katakan kau sakit dengan nada memelas, padahal kau sehat bugar.

Mari, kita bermain saja, permainan yang kau mainkan, masukkan aku ke dalam permainan mu.

Keluarkan lakon-lakonmu dan kata-katamu yang luar biasa itu, lalu pilihkan satu lakon untukku yang bisa mengimbangi kehebatan lakonmu.

Panggung telah siap, dekorasi nya merah darah, kuning terang dan hijau lumut, lampu-lampu sudah menyala terasa panas dengan bunyi mendesis, hanya tirai saja yang belum dibuka.

“Semisal aku tak datang dalam pagelaran lakonmu, bisakah kau gantikan aku?” 

“Tak bisa, jawabmu,” aku balik berkata,”Ya, kau pasti bisa karena kau lah pelakon sejati.”

Berpuluh tahun kau berdiri di atas panggung yang sudah mengubah dirimu menjadi yang sekarang, hingga tak lagi kutemui dirimu yang dulu, yang sederhana. Ataukah memang sejatinya dirimu adalah dirimu yang sekarang?

Pada malam-malam yang sepi kukenakan bajumu, dan duduk dalam kegelapan sambil meronce mimpi. Maaf aku tak dapat lagi meladeni lakonmu yang luar biasa. Hingga tak kubisa ingat lagi mana betul mana bohong.

Tak ada yang tersisa kali ini, hanya dengung statis dari lampu panggung dan sebuah kesadaran bahwa impian tak kan pernah menjadi nyata.

Lalu kita habiskan saja dialog terakhir ini meski nyala cinta tak padam juga, tapi besarnya dendam menggulung dada. Dan angin menderu membawa serbuk bunga dalam keheningan yang membuatku menoleh mencarimu.

 

 

 

 

Dua Kata

 

Dalam dua kata yang singkat tersimpan keajaiban, tapi sebelumnya hanya ingin kuingat dulu sebuah panggilan, atau barangkali sebuah pesan.

Lalu dua kata itu akan menjadi apa saja, menjadi prasangka, atau barangkali menjadi kesadaran yang menghantam keras, atau barangkali sebuah kebenaran, kronisnya kebohongan, atau yang terparah adalah secuil kerinduan.

Kau takkan pernah tahu.

Ambil saja apa yang muncul dan mewujud dalam pikirmu, dan aku takkan pernah tahu.

Dalam dua kata yang singkat, langit menjadi lebih biru, malam menjadi lebih gelap, bau menjadi semakin menyengat menyisakan rasa gatal di hidung yang tak bisa digaruk, kesakitan semakin menghunjam jauh ke dalam jantung. 

Waktu mungkin telah berlari, dan pasti dia takkan pernah mau berhenti ataupun kembali.

Ini semua terjadi dalam dua kata yang singkat tapi ajaib.

Selamat tinggal.

Lagu Yang Kunyanyikan Tapi Tak Pernah Kuselesaikan

 

Kunyanyikan lagu yang terakhir terngiang di telingaku di atas kereta terakhir yang akan mengantarkanku ke tempatku pulang, sebelum suara-suara di stasiun menghilang, lalu kata-kata pulang mengiang di telingaku, lalu lampu-lampu di sepanjang rel dekat stasiun menyala seperti ular meliuk-liuk.

Lalu kunyanyikan lagi dalam hati, lagu yang terbaik yang pernah kudengar, sebuah harapan merekah yang segera kupetik agar tak segera hilang dilibas oleh kenyataan.

Sambil kulihat pemandangan di luar yang gelap seperti tertutup oleh tirai hitam, hanya sesekali kulihat nyala lampu dari rumah jauh di sana.

Kupandangi satu-satu wajah teman seperjalananku, wajah-wajah yang tak kukenal, yang balik menatapku, mungkin tak suka karena aku memandanginya. Tubuh-tubuh yang bersandar bergoyang mencari posisi yang paling nyaman, agar perjalanan panjang ini tak terasa terlalu melelahkan. Wajah-wajah tanpa emosi yang terangguk-angguk mengikuti goyangan kereta.

Aku masih menyanyikan lagu terakhir yang terngiang kembali di telingaku, belum juga kuselesaikan. Barangkali sampai stasiun terakhir takkan kuselesaikan juga.

Mataku terpejam dan membawaku mengenang masa lalu yang datang bersamaan dengan lagu yang kunyanyikan, jauh di ujung rel yang paling ujung, di balik cakrawala, di langit yang paling tinggi, atau hanya di ujung kamarku.

Dan bau ini, bau masa lalu yang menenangkan, seperti bau rempah-rempah,  bau bunga kemuning, bau jamu seduhan, bau kopi segar baru diseduh.

Lalu semua menjauh dan takkan pernah dapat kutangkap lagi.

Aku pernah berharap dapat menghilangkan semua kenangan akan lagu dan bau, sebelum sampai pada perhentianku yang terakhir, tapi takdir telah mengambil segalanya, menghancurkan tubuhku menyisakan hanya kenanganku.

Masih kunyanyikan lagu terakhir yang akan selalu kunyanyikan, tapi takkan pernah kuselesaikan.

Lalu kereta ini akan sampai, dan aku bisa pulang.

Mimpi

Semalam aku bermimpi,

aku tergelincir ke pinggir jurang dalam perjalananku mendaki gunung, dan aku bergelantungan dengan satu tangan memegang akar pohon yang menonjol.

Jurang di bawahku.

Gambaran kabur menghantuiku, tangan-tangan yang melambai, wajah-wajah yang mengejek menertawakan, berputar-putar di sawah yang baru dipanen, ada wajah yang kukenal tapi dia menjauh.

Lalu ada sebuah suara berbisik,” Lompat!” dari sebuah wajah yang membungkuk ke dekatku hingga hanya aku yang bisa mendengar suaranya. “Seandainya aku dirimu, aku akan melompat,” lanjut suara itu.

Tapi aku tidak melompat, karena dia sungguh keliru.

Dari pinggir jurang, dengan bergelantungan hanya di satu tangan, aku menengok ke bawah ke dasar jurang, ketika nafasku memburu dan jantungku berdentam-dentam, kulihat dia menantiku di bawah sana.

Lalu segalanya menjadi jelas bagiku.

Tentang Hujan

 

Sudahkah kukatakan bahwa aku menyukai hujan?

Bagiku hujan adalah kehidupan, hujan adalah nafas sang alam. Aku dapat berlama-lama duduk menyaksikan turunnya hujan membasahi bumi, menghirup harum menenangkan tanah yang baru saja kena hujan, mendengarkan bunyi hujan di atas atap mula-mula perlahan lalu berubah menjadi keras berkelontangan. Bunyi hujan yang menimpa jendela bunyinya bagaikan denting lonceng memanggil untuk menundukkan kepala sejenak untuk bersyukur. Mengisi sungai di muka rumahku hingga airnya menjadi semakin menggelegak berdeguk. Semakin deras hujan semakin kurasakan kebahagiaan yang perlahan tumbuh jauh di dalam hatiku. Perasaan tentram bahwa segalanya akan baik-baik saja.

Hujan membuatku juga merasa kecil dan merasakan kefanaan hidup. Membuatku membayangkan semua yang kucintai dan kini sudah tak bersamaku lagi. Yang pernah mendengarkan dan menikmati hujan bersamaku di depan jendela yang sama. Waktu lah yang sudah memisahkan diriku dan dirinya, padahal waktu adalah hadiah dari Yang Maha Kuasa yang seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.

Kembali kudengar suara-suara masa lalu yang merupakan penghiburan bagiku, berusaha untuk memahami segalanya.

Karena ketika berdiri di sini menatap hujan yang mengguyur tanpa henti, ditambah dengan angin yang bertiup yang membuat jatuhnya hujan kadang miring ke kanan kadang miring ke kiri, menggoyangkan pepohonan dan menjatuhkan daun-daun kering, akan dengan mudahnya aku merasakan bahwa diriku tak ada artinya dibandingkan keindahan hujan.

Hujan juga mengajarkanku bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Hujan lalu panas. Tumbuh lalu mati. Satu saat aku tertawa, pada detik berikutnya aku harus meneteskan air mata. Tak ada yang abadi.

Kosong, lalu hampa lalu kembali bahagia dan lega.

Aku pernah membawanya merasakan hujan, menengadah ke atas membiarkan hujan menampar-nampar wajah kami. Butiran-butiran hujan yang dingin terasa menyegarkan. “Apakah kau merasakannya?” Kujalin jemariku dengan jemarinya, tapi dia tidak menjawab, wajahnya tanpa emosi, matanya terpusat pada satu titik di belakangku. Padahal kurasakan rasa dingin di wajahku, angin yang berbisik, dan hujan yang mengatakan kesepianku, cintaku dan harapanku. Aku sungguh ingin percaya bahwa dia mengerti, dan bahwa dia adalah orang yang dapat kupercayai. Karena dulu dengan mudahnya aku percaya, karena aku telah mengatakan padanya, bahwa tak boleh ada kebohongan.

Aku berkonsentrasi hanya pada bunyi hujan yang menimpa atap dan berusaha untuk hanya memikirkan suara itu, hingga dapat membuaiku dalam tidur yang sangat kubutuhkan. Tapi hujan kali ini membuatku terus terjaga, seakan-akan berkata, ” Lihatlah, dengarlah.”

Waktu akan menjawabnya nanti, mungkin waktu akan mengkhianatiku dan tidak berpihak padaku. Mungkin waktu bahagia bagiku hanya sedikit dan memberiku waktu kesedihan lebih banyak. Waktu untuk lebih bersyukur. Waktu untuk hening.

Waktu akan memberikan segalanya yang ingin kuketahui. Namun untuk sementara ini aku masih harus bersahabat dengan hujan.