Ketika dan Kukira

 

Ketika kau terus-terusan membohongiku dan aku hanya diam saja, kukira itu cinta, padahal itu adalah kebodohanku.

Ketika kau terus-terusan menyakitiku dan aku hanya menerima saja, kukira itu cinta, padahal itu adalah kelemahanku.

Ketika kau memerintahkanku untuk melakukan yang tak kuinginkan dan aku melakukannya, kukira itu cinta, padahal itu adalah ketololanku mengira dengan melakukannya kau akan lebih mencintaiku.

Dan cinta tak pernah menjadi milikku meski telah kuperjuangkan. Cintaku tak pernah menjadi milikmu kecuali hanya dalam mimpiku.

Kau melukai hatiku dan membuang pakaian kebesaran yang ingin kupakaikan padamu, karena kau dikuasai oleh nafsu ragawi yang membelenggumu di atas kapal bergoyang yang kau namakan cinta.

Aku memanggilmu di kala mentari mulai menampakkan sinarnya, tetapi kau tak pernah mendengarku sebab kemunafikan dan drama kehidupan telah memenuhi pikiranmu hingga matamu terbutakan dan tak lagi dapat melihat kemurnian dari cintaku.

Aku menghiburmu di kala malam dengan pelukan selembut selimut dan kata-kata menenangkan, namun kau tak juga mendengar karena pikiranmu terkaburkan oleh kekhawatiran akan hari esok yang memang bukan milik kita.

Aku takkan membuang pakaian kebanggaan yang bernama cinta kita, meski tak ada lagi masa depan untuk kita. Aku hanya ingin memperkaya batinku dengan hembusan angin surgawi yang akan memperkaya hidupku.

 

—Ineke H—

 

Ketika Usia Tua Menjelang

Ketika usia tua mengunjungiku kusadari :

  1. Gerakanku melambat,

  2. Aku sering menjatuhkan barang-barang yang kupegang,

  3. Mataku mulai menggunakan kacamata baca,

  4. Aku mulai gampang lupa, lupa meletakkan barang-barang, lupa nama, lupa tempat, lupa kejadian,

  5. Aku gampang lelah.

Dengan usia tua mengunjungiku aku juga menyadari :

  1. Aku semakin sabar,

  2. Aku semakin menerima bahwa aku tak lagi bisa mengubah dunia seperti semangatku dulu ketika masih muda, aku hanya menerima saja dunia yang ada di depanku dan menyiapkan diriku untuk menghadapinya,

  3. Aku semakin memaklumi begitu banyak sifat manusia: baik, jahat, sombong, pembohong, penipu, suka drama dan sebagainya, aku memakluminya dan mencoba untuk mengerti sama seperti mereka memaklumi diriku,

  4. Aku semakin menyukai keheningan dan kesunyian yang damai,

  5. Aku semakin menyadari bahwa ada hal-hal yang bisa berubah dan ada hal-hal yang tak bisa berubah dan aku menerimanya dengan lapang dada.

  6. Aku menyadari bahwa apa yang harus terjadi akan terjadi, dan aku harus menerimanya juga dengan lapang dada,

  7. Aku semakin menyadari bahwa aku tak perlu berkata-kata bila memang tak perlu,

  8. Aku semakin rendah hati dan menerima bahwa di atas langit masih ada langit.

Dan aku hanya ingin menua dengan anggun, hingga nanti nafas terakhir kulepaskan.

 

—Ineke H—

Ketika Malam Datang

Ketika malam datang, aku akan menyelinap masuk ke rumah si kaya yang jahat dan akan kuambil semua hartanya yang didapatnya dari menipu si baik dengan kebohongan dan janji-janji palsunya, lalu aku akan meninggalkan untuk si kaya yang jahat, sebuah buku yang akan membersihkan jiwanya dari kebohongan dan tipu daya, hingga membuatnya menjadi bersih lagi seperti bayi yang baru dilahirkan, mengubah mereka menjadi orang baik, selamanya.

Harta yang kuambil dari si kaya yang jahat akan kubagikan pada mereka yang lebih membutuhkan dan sangat membutuhkan, hingga harta itu lebih memiliki makna dari sekedar harta.

 

“Apakah itu membantu?”

 

Dalam kegalauan, ketakutan dan kesedihan, aku melangkah ke taman kota. Tak kulihat seorangpun duduk atau berjalan-jalan di sana. Sepi. Aku hanya ditemani kicauan burung dan dengung lebah di atas bebungaan.

Aku menumpahkan ketakutan dan kesedihanku dengan tangis tanpa suara sambil terus berjalan pelan. agar legalah dadaku.

Di ujung jalan setapak taman itu, aku melihat seorang tua tengah duduk di salah satu bangku taman, menengadahkan kepalanya ke langit dengan mata terpejam. Wajahnya dipenuhi kerutan tapi terlihat damai. Perlahan, aku berjalan melewatinya sambil melirik padanya, takut mengganggu keheningannya.

Pak tua itu menyadari aku lewat di depannya, dan dia membuka matanya sedikit memandangku, dan mengangguk pelan. Aku seperti terpukau memandangnya dan kuputuskan untuk duduk sebentar di sebelahnya.

Setelah aku duduk di sebelahnya, pak tua kembali melanjutkan kegiatannya menengadahkan kepala ke langit dengan mata terpejam. Melihat kedamaian yang terpancar ketika dia melakukan itu, akupun ikut memejamkan mata dan menengadahkan kepala menghadap langit. Keheningan yang hening menyelimuti kami berdua. Wajahku perlahan dihangati oleh sinar matahari yang tidak terlalu panas karena tertutup oleh rimbunnya dedaunan di atasku. Sinar matahari itu perlahan mengeringkan air mataku dan menghilangkan rasa bengkak di kedua mataku karena terlalu banyak menangis.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku menurunkan kepalaku membuka mataku dan memutuskan untuk bertanya pada pak tua yang masih belum juga mengubah posisinya, “Pak tua, pernahkah kau merasa kuatir atau cemas?”

Dia tak langsung menjawab pertanyaanku, hanya saja kulihat ada dua kerutan kecil yang perlahan muncul di puncak hidungnya, menandakan dia mendengarku, dan barangkali merasa terusik dengan pertanyaanku.

Kukira dia tak mau menjawab pertanyaanku, jadi kuputuskan untuk berdiri dari tempat duduk itu dan kembali berjalan. Baru saja aku melangkahkan kakiku, kudengar pak tua berkata dengan suaranya yang lirih dan empuk, seperti aliran angin menerpa telingaku, “Apakah itu membantu?” ujarnya.

Kupalingkan wajahku dan menatapnya, dia masih dalam posisi yang sama, hanya saja matanya terbuka sedikit melirik menatapku dan ada senyuman kecil yang miring di bibirnya, lalu matanya kembali terpejam dan bibirnya tak lagi tersenyum tapi terkatup rapat, bagaikan dia tak pernah berkata apapun.

Lalu kulangkahkan kakiku kembali berjalan, dan kurenungkan kata-kata pak tua, ‘Apakah itu membantu?’

Betul kata pak tua, jika aku merasa ketakutan, sedih dan cemas terus menerus, itu takkan menyelesaikan masalah-masalahku. Yang kuperlukan adalah kekuatan, ketabahan, semangat dan terus melangkah maju dan tak lagi melihat kebelakang. Perlahan, suatu kesadaran menghantamku bagaikan bunyi gong raksasa yang dipukul persis di telingaku. Aku tak boleh lagi takut, cemas, dan sedih, aku harus terus hidup dengan kekuatan dan ketabahan serta semangat pantang menyerah. Harus.

Kini aku tak lagi berjalan, aku berlari menuju pintu keluar taman, agar aku segera dapat menjalani hidupku. Aku sudah tak sabar.

 

—Ineke H—

 

Bernafaslah…

Ketika ada yang mengeluhkan hidupnya padaku, aku berkata padanya,

“Ini hidupmu, bukan hidupku jadi jalani hidupmu dengan cara yang kau ingin lakukan, putuskan yang terbaik untukmu.

Bila sudah kau putuskan, bertanggung jawablah pada keputusanmu dan selesaikan apa yang telah kau mulai. Jangan pernah lari dari tanggung jawabmu, karena tanggung jawab itu akan terus mengejarmu sampai di akhir hidupmu.

Berkata-katalah dengan jujur yang keluar dari nuranimu, janganlah berbohong dan membuat janji palsu.

Bukankah manusia dihargai dari kemampuannya untuk bertanggung jawab dan berkata-kata?

Hiduplah dengan orang yang sungguh kau cintai dan berdamailah dengan kenangan yang tak mengenakkan yang kau jalani bersamanya. Karena tak ada hubungan yang sempurna, dan kita harus mengusahakannya menjadi sempurna setiap hari. Dia tak sempurna begitu pula kau.

Kau harus semakin kuat dari hari ke hari, karena dunia tidaklah ramah untuk mereka yang lemah. Takkan ada yang memujimu untuk kekuatanmu, tapi dirimu sendirilah yang merasakan nya, dan bersyukur karena kau sudah menjadi kuat.

Ketika mentari pagi membangunkan tidurmu, terjagalah, bernafaslah dan mulailah harimu.

Hanya itu.”

 

—Ineke H—

Katakan Sekali Lagi

Katakan sekali lagi, walau kau pernah mengatakannya, tapi aku hanya ingin mendengarnya sekali ini saja, hingga tenanglah jiwaku.

Dan kembalikanlah kilat cahayaku yang kau bawa pergi bersama mu.

Biarlah kumiliki lagi langit biru yang dulu kau ambil,  tempat aku dapat menaburkan bintang dan awan putih berarak bagai menari di sekitarnya.

Kau hadirkan angin topan yang sudah memporakporandakan hidupku hingga hancur berantakan seperti kota mati yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Lalu kau hanya berlalu tanpa memalingkan wajah sedetikpun.

Aku hanya ingin menjalani saja hidupku seperti sebelum kau hadir, tapi sebelumnya, katakan sekali lagi saja karena aku ingin mendengarnya, meski kutahu kau tak bersungguh-sungguh.

Katakan lagi, sekali ini saja.

 

—Ineke H—

 

Akankah Kita Bertemu Lagi?

 

Suara kilat memekakkan telinga yang membuatku tuli sesaat, langit perlahan menjadi kelabu dengan mendung yang menggelayut berat. Keindahan biru langit perlahan hilang tertutup oleh gelapnya mendung, seperti kata-kata yang dulu ingin diucapkan namun tak sempat terucapkan tertelan bersama dengan kilat dan badai di kehidupan yang mengiringi takdir ini.

Aku duduk di sini menanti hujan yang akan turun dengan deras membasahi bumi, membasuh semua debu yang telah mengotori jalanan sesiangan, dan barangkali juga membasuh semua masa lalu yang dulu pernah kita lakoni bersama. Perlahan kesadaran menghantamku, bahwa kau bukanlah sosok yang dulu pertama kali kukenal, dan kesadaran itu menghancurkanku dari dalam.

Kita tak pernah bersiap untuk perpisahan ini karena kita yakin takkan pernah ada perpisahan untuk kita. Kau selalu mengajarkan padaku, bahwa akan selalu ada harapan sekecil apapun dari segala masalah di antara kau dan aku, karena ada aku untukmu dan ada kau untukku.

Setiap doa, air mata hanya untukmu. Meski tak lagi bisa kau dengar.

Mungkin aku akan melupakanmu, wajahmu takkan lagi kukenali di keramaian. Hanya saja kau telah terukir di hatiku, hingga nafas terakhirku.

Dan kini, ketika mendung telah menyibakkan diri dan malam mulai berhiaskan bintang, aku memandang bintang seperti aku memandangmu dan berbincang denganmu, dan mengatakan, aku mencintaimu.

 

—Ineke H—