broken-heart-2

Love is Never Give Up

True love means, you do not give up when things get hard.

 

—quote dari berbagai sumber—

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Olah Rasa

Yang kupinta hanyalah niat, tapi kau berikan janji palsu dan tubuh kosong tak berisi, lalu ada jurang yang tak terjembatani bernama suara dan tatapan hampa, hingga tak mungkin lagi aku dapat merasakan apapun yang pernah ditawarkan oleh rasa. 

Ada perjalanan pengembaraan di jagad ketiadaan yang panjangnya sungguh tak terkira, dan jagad pencarian dirimu yang tak pernah ditemukan lagi karena kau memang tak ingin ditemukan, pengabaian luar biasa atas nama undur diri ke dalam ketakhirauan yang kau namakan perenungan yang pada akhirnya tak menghasilkan apapun. Hanya menyisakan duka dan pemahaman lebih tinggi akan arti sebuah kasih. 

Pertemuan yang sudah dibekali sarat rasa dan cerita, tak menghasilkan getar apapun, karena kebersamaan itu memang telah tak terasa lagi meski ada cinta yang masih bersembunyi di kedalaman hati yang paling dalam, yang harus digali lagi berpuluh tahun.

Lalu masihkah kau bersamaku kali ini diantara lautan alasan yang menggulung dan menderu bagai bunyi angin? 

Aku masih disini merangkai apapun yang masih dapat kurangkai meski dalam hati penuh amarah dan umpatan yang tak pernah kuucapkan atau kupikirkan.

Aku akan bertanya pada sang takdir, mengapa? Dan sang takdir tertawa terbahak-bahak sampai air mata keluar dari matanya,”Kau bodoh, mau mengakaliku!” Lalu dia menari-nari dengan tarian yang menggila.

Mereka Yang Menyulitkanku Merekalah Guruku Yang Terbaik

Kehidupan adalah sekolah terlama, terbesar dan terlengkap. 

Pelajaran yang terlengkap yang kudapatkan adalah dari mereka yang sulit dan menyulitkanku.

Pelajaran pertama adalah kesabaran. Banyak kesabaran.

Aku kesulitan mencintai mereka dengan cintaku yang seharusnya kuberikan pada mereka.

Aku kesulitan membalas dengan kebaikan bila mereka memperlakukanku dengan buruk. 

Seharusnya aku dapat lebih bijaksana memilih kapan aku harus diam atau aku harus bicara.

Seharusnya aku dapat memilih bagaimana sikap yang terbaik untuk menghadapi mereka.

Seharusnya aku dapat menentukan aturan yang baru atau yang lama untuk melindungiku dari kesakitan dan kesedihan.

Seharusnya aku selalu mendoakan mereka yang telah menyulitkanku.

Seharusnya aku dapat melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Tanpa emosi.

Seharusnya aku dapat bertindak benar di waktu yang tepat.

 

Mungkin aku masih harus belajar lagi.

 

Kita sudah mati, amat sangat mati. Tak ada lagi nafas dan denyut kehidupan. Yang ada keheningan, bukankah kematian adalah keheningan? Seperti keheningan sungai tanpa riak, gunung tanpa gelegak lava, kehidupan tanpa tawa dan tangis. Hening. Kosong.

Aku sungguh menyukai kita yang mati ini.

Tetapi tak ada makam dengan nama kita di atasnya, hanya ada dua pasang jejak langkah, di jalan yang pernah kita lalui dan berakhir di suatu pagar tembok tinggi dengan kawat besi di atasnya, dan kau sudah berhasil sampai di balik tembok sedangkan aku masih menggapaikan lenganku ke atas berharap kau ada untuk menyambut tanganku dan menarikku bersamamu.

Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada kicau burung, tak ada apapun.

Serumu dari balik tembok, “Mari kita mencari pintu gerbang agar kita dapat bersatu kembali.” Tapi tak ada gerbang, karena memang tak ada apapun, bahkan tembok ini hanya ilusi saja, yang kita kira ada padahal tak ada. Lalu badai datang secara tiba-tiba menggulung apapun yang dilewatinya, menambahkan ketakadaan semakin nyata dan dalam.

Aku ingin merasakan lagi kesedihan yang dulu sekali pernah membuatku limbung dan tak tahu arah, yang tersisa hanya jejak-jejak cerita tentang segalanya kita, yang dihancurkan oleh kebohongan dan pengkhianatan. Dan lalu yang kita pilih adalah kematian, jalan keluar yang termudah dan tergampang, meski prosesnya sungguh tak terbayangkan.

Tidak pernah ada lagi cerita kehidupan setelahnya, karena waktu telah merampas segalanya. 

Pada akhirnya, kita akan menemukan gundukan merah yang adalah makam kita di sisa akhir perjalanan ini, tapi makamku dan makammu berjauhan karena memang begitulah yang terjadi. Sementara ini kita masih menikmati kematian kita yang amat sangat mati.

 

 

April, di hari kedua puluh delapan, berdekatan dengan hari kedua puluh sembilan, setelah mentari lelah dan memutuskan untuk terbenam, lalu perlahan bulan menampakkan cahayanya yang masih setengah karena purnama sudah lewat, namun cahayanya terang, karena tak ada awan yang menutupi, hingga dapat kulihat daun-daun pinus yang masih bertitik-titik air sisa hujan.

Perlahan mengambang di udara bau wangi kemuning dan kenanga yang lembut menenangkan.

Burung malam terbang menuju kegelapan menembus udara yang dingin dengan bunyi teredam kepakan sayapnya yang bertenaga.

Dan sebaris lagu dari kepingan kenangan lama kembali berputar, lagu yang tak ingin kudengar lagi.

Bersamaan dengan turunnya malam, pikiranku mengembara ke wajah-wajah lama yang mulai kabur dan menghitam berbaris, mereka sudah lama mati atau mungkin masih hidup, namun setidaknya bagiku mereka semua sudah mati.

 

 

Pelajaran Kehidupan

Aku pernah dicintai dan mencintai.

Aku telah merasakan kehilangan.

Aku merasakan ketidakpedulian dan keacuhan. Aku merasakan kebahagiaan dan kesedihan.

Itulah yang terjadi dan aku harus menerimanya dan berubah menjadi diriku yang sekarang. Pintu yang kumasuki berbeda dengan pintu tempat aku keluar.

Meski sulit tapi aku telah belajar.

Aku menjadi tahu bahwa orang-orang dapat menyakitiku dengan amat sangat, dan nyatanya tak peduli akan kesakitanku.

Aku menjadi tahu bahwa orang-orang dapat mempermainkan kata-kata dengan mudahnya lalu mengingkarinya seakan tidak mengatakannya atau membolak-balikkan kata hingga pendengarnya menjadi kebingungan, hanya demi keuntungan dirinya sendiri.

Bahkan orang baik dapat berubah menjadi jahat ketika hatinya sungguh tersakiti, kesedihannya sungguh tak terbayangkan. Begitu pula aku.

Aku telah bertemu orang-orang baik dan hebat, tapi aku juga bertemu dengan orang-orang yang hatinya sudah semula jadi memang kejam.

Orang-orang yang membiarkan segalanya berlalu, dan menerima kehidupan dengan kepasrahan yang menakjubkan, dan orang-orang yang selalu menyanyikan kesusahan dan kemelaratan hanya agar mendapat simpati dari orang lain.

Mereka semua sudah hadir dalam hidupku, menjadi guru kehidupanku, mengajarkan kehidupan yang keras dan yang indah, membuatku menjadi seperti hari ini.

Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa aku akan menjalani hidupku hanya dengan orang-orang yang tidak menyerah padaku, yang menyayangiku setulus diriku menyayanginya, yang menerimaku dengan segalanya diriku dan mau menghabiskan malam dan masih ada bersamaku ketika fajar datang. Setiap hari.

 

 

malam

Aku butuh atap baru karena yang lama penuh lubang disana sini, usang, penuh dengan lumut hijau dan berbau tak sedap, dan ada binatang-binatang melata menjijikkan yang hidup di sana.

 

Tapi setelah kupikir-pikir, aku tak lagi butuh atap. Karena tanpa atap, aku akan tidur di bawah lautan bintang, berjemur di bawah terik matahari dan merasakan tetes pertama air hujan setiap kali hujan turun membasahi bumi.