Kehidupan Abu-Abumu

Ketika kau mengenalkanku pada kehidupan abu-abu yang sudah lama kau lakoni, hidupku tak lagi hitam dan putih, aku mulai merangkai mimpi dan harapan abu-abu sepertimu, perasaan abu-abu yang takkan pernah kurasakan jika tidak karenamu,

Kau angkat aku dan kau hadiahkan mimpi dan harapan abu-abu di setiap harinya, pelajaran dan segalanya tentang kehidupan abu-abumu,

Kehidupan memang tidaklah hanya hitam dan putih, kadangkala abu-abu gelap atau terang, namun kau kenalkan padaku abu-abu yang lain, yang tak pernah kukira ada di dalam kehidupan ini, abu-abu yang kukira dapat menyamankan aku,

Sebenarnya abu-abu menakutkanku, membuatku merinding, membuatku berpikir sesuatu yang jahat, menarik keluar semua tenagaku, membuatku tidak menjadi diriku sendiri, menyisakan penyesalan yang takkan habis-habis,

Tolong, kembalikan saja mimpiku dan harapanku, dan jika aku masih diperbolehkan untuk bermimpi dan berharap, maka aku ingin mimpi dan harapanku adalah hitam dan putih lagi, dan tak ada kau dan kehidupan abu-abumu di situ. Aku hanya ingin mimpi dan harapan hitam putihku kembali.

Advertisements

Tiga Ketololanku

Tiga ketololanku;

Pertama, kubiarkan pintu terbuka yang biasanya pintu itu selalu kukunci, dan kubiarkan segala kejelekan terjelek, yang tadinya tak kusadari kejelekan terjeleknya, merayap masuk,

Kedua, kukatakan selamat datang dengan segala ketulusanku, dan kubiarkan saja mereka mengacak-ngacak hati dan pikiranku, karena kukira aku memiliki cinta pada kejelekan, hingga tak ada lagi sisa keindahan yang dulu pernah kurawat dengan segenap hatiku,

Ketiga, setelah porak poranda dan hancur berantakan, sang kejelekan, pergi dengan berbagai alasan yang tak masuk diakal, dengan segala takhyul yang dihembuskan, dan membiarkanku membersihkan dengan susah payah segala kerak dan kotoran yang ditinggalkan.

Kejelekan dengan pongahnya pindah ke lain tempat yang akan diporakporandakkan lagi dengan pesonanya seperti yang dilakukannya di tempatku, lalu ditunjukkannya padaku tawa dan kebahagiaan berada di tempat lain. Palsu.

Kukira keindahan yang dulu pernah ada masih lama akan kembali karena terlalu banyak kerusakan yang sudah dibuat oleh kejelekan.

Kesendirian Dan Kesepianku

Aku hidup hanya dengan diriku sendiri, kadangkala aku kesepian, tapi kadangkala pula aku tak kesepian, kadangkala aku sedih karena kesepianku, tapi kadangkala pula aku menikmati kesepianku sebagai kebebasanku, kebebasan dari rasa.

Kadangkala bila aku tak mampu lagi mengatasi kesepianku, aku membiarkan saja kesepian ini menenggelamkanku, tapi kadangkala pula kupelajari bahwa kesepianku adalah karena kerinduanku akan kehadiran seseorang atau karena kerinduanku akan sesuatu. Aku menyadari bahwa aku sungguh menderita dan ingin mengenyahkan kesepian ini dan mengubahnya menjadi tak kesepian lagi.

Kadangkala aku menikmati turunnya hujan pertama di musim kemarau, hujan panas, seringnya hujan menghiburku. Bila hujan tak turun, aku menikmati sore, dan terbenamnya mentari bersama dengan kembalinya burung-burung ke sarang, sendiri atau berkelompok, bersama juga keluarnya kelelawar dari sarangnya entah dimana, dan akan dimulainya hari, sendiri atau berkelompok. Burung dan kelelawar, sama denganku, mencari apa yang dirasakannya aman untuk hidup.

Kadangkala pula dalam duduk diamku, aku merasakan getaran semesta yang menemaniku. Di semesta sana, ada pula mereka yang sendiri dan kesepian, dan kami akan saling menyentuh dalam keheningan, bangga akan getaran yang sama dan saling tersenyum dalam senyap. Meniupkan kebahagiaan ke udara yang diyakini akan sampai pada yang membutuhkannya. Aku, tentu saja merasakan menjadi bagian dari semesta yang besar, kesatuan yang agung.

Dan bila kupejamkan mataku bisa kudengarkan lonceng dan bel yang berdenting tepat ketika seseorang tengah mengunjukkan doa kepada yang Ilahi, Allah Yang Kuasa. Atau dapat kucium juga bau wangi dupa, ketika seseorang menyalakannya untuk menaikkan doa, dan mengambil asap dupa yang naik ke atas untuk diusapkan ke dahi, agar suci lah segala yang akan dilakukannya.

Kesendirianku dan kesepianku membukakan diri pada satu sama lain.

Keinginanku

Subuh tadi, aku memiliki keinginan yang sungguh meremangkan bulu kudukku, keinginan untuk marah semarahnya agar dada ini terasa lapang, tapi bersama dengan kicauan burung pagi, kelembutan menghempaskan keinginan marahku dan membuatku kembali bisa menghela nafas lalu mengusap mataku yang tadi sempat memerah.

Lalu kulihat dari jendelaku, sinar mentari pertama yang perlahan keluar menggantikan malam, firasatku mengatakan hari ini akan panas, dan seakan menjawab firasatku, mentari segera menyinarkan sinar yang menyilaukan tepat ke mataku.

Ketika kemarahan menghujani keinginannya di pikir ku dan menabrakan dirinya pada kelembutan yang selama ini kupakai sebagai jati diriku, jantungku berdegup dengan kerasnya, bahkan degup nya sampai terdengar di telingaku, dan keberadaan logika sudah tak tahu dimana, atau dia ada, tapi keberadaannya kuabaikan.

Aku memilih untuk membiarkan saja keinginanku mengendap di dasar hatiku, dan akan kutunggu saat yang tepat untuk mengeluarkannya.

Bagaimana?

Kayu sudah berubah jadi arang atau dimakan rayap yang ganas, tak bisa lagi kembali menjadi kayu, seperti kata-kata yang telah terucap tak bisa dihapus lagi.

Lalu bagaimana caraku untuk mengeluarkanmu dari kegelapan? Kegelapan yang kau buat sendiri dari labirin kata-kata yang tak pernah terpikir dapat kau ucapkan. Sungguh mengejutkan.

Barangkali masih tersisa sedikit air hangat untuk menyeduh teh lemon yang akan menyegarkan tenggorokanmu hingga kau dapat menyusun kembali kata-kata yang lebih baik yang dapat kau ucapkan? Cerita tentang kehidupan lalu yang indah dan kehidupan kini yang harus dilalui serta kehidupan akan datang yang kuharap lebih baik.

Atau barangkali kuharapkan hujan masih akan turun di bulan Juni, ketika kemarau mengintip di akhir hari, hingga nanti beribu hari yang lalu akan terbasuh dengan hujan kemarau yang panas.

Atau waktu akan berhenti sebentar untuk menghela nafas dan membuatku masih memiliki saat untuk mengingatkanmu akan hidup yang memiliki sebab dan akibat, hingga nanti detik terakhir bisa melihat lagi bulan yang cantik, dan tak ada lagi saat untuk meminta maaf.

Bukankah pernah kukatakan semua ini dalam keremangan senja?

Mata Harapan

Di kelopak melati yang mekar ada setitik embun yang akan menguap bersama terbitnya mentari di Timur,

bersamanya menetes harapan dari mata yang katanya takkan pernah berbohong karena mata adalah jendela hati,

mata harapanmu berjatuhan bagai air yang jatuh ke lautan, tak berbekas, meski kurenungi sepanjang perjalanan di tengah kebisuan hati,

seperti burung yang mengisyaratkan hujan pada daun, barangkali isyarat itu sudah ada, hanya saja sang daun berlagak tak peduli,

dan aku selalu mempercayai isyarat dan tanda-tanda yang dikirimkan alam padaku, dalam helaan nafasku aku merenungi mata itu lagi,

seperti semua yang tak kekal di dunia ini, mata itupun kini terpejam selamanya dan aku masih menunggu untuk terbuka kembali, meski tak lagi mungkin.

Ketika hati ingin menyuarakan apa yang dipendamnya dan mata penuh dengan air untuk diteteskan, keringat dingin membasahi kening serasa demam, lalu yang dilakukan hanya menghela nafas berat sambil menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sesaat dirasakannya kelegaan yang membuat sedikit rasa bahagia yang menjanjikan segala sesuatu akan baik-baik saja, lalu sesaat tadi hilang dan meninggalkan kekosongan yang besar.

Yang dicari apakah sesuatu yang manis ataukah hiburan dalam kesedihan, ataukah barangkali kebebasan dari semua rasa sakit?

Katanya tangisan adalah doa, dan air mata adalah kata-kata yang tak terucap, karena keduanya muncul dari kedalaman hati yang bersih.

Menunggu di sini satu keajaiban yang tak pernah dipercayainya akan terjadi, bagaikan melihat seekor naga mengendarai ombak dalam gemuruh memekakkan telinga dan api yang berkobar di sekitar tubuhnya.

Tapi lagi-lagi perasaan terperangkaplah yang membuat segalanya menjadi kembali tak nyata. Kepedihan dan kekalahan menggulung dalam dadanya, dan semakin besar saja bersama setiap detik yang berlalu.