Kegelapanku

Cahaya matahari dan cahaya bulanku sudah pergi dan takkan kembali, mengubah duniaku menjadi kadang abu-abu tua atau hitam sepenuhnya, gelap.

Aku pernah hendak beranjak dari kegelapan duniaku yang tanpa matahari dan bulan, tapi seribu tangan-tangan gelap terus memegang erat kaki dan tanganku serta menutup mataku dengan selendang hitamnya, membuatku mati kutu, tak bisa bergerak dan kebas.

Di sekitaranku hanya ada warna abu-abu tua sekilas bila aku berusaha menatap lama, rumah, kebun bunga, tempat bermain kanak-kanak, toko, kendaraan, bahkan orang-orang. Seperti sudah masa lalu semuanya, nyatanya semua adalah masa kini.

Seperti mengenang kerinduan yang tak pernah lepas dari dada, meski berusaha untuk bertemu, dengan segenap kekuatan, segalanya hanya akan hampa.

Aku masih menunggu hingga hariku tiba, sementara sekarang aku masih tak bisa berbuat apa-apa, karena aku sungguh tak berdaya mengenyahkan kegelapan ini.

Advertisements

Dear Kamu,

Dear kamu,

Bukankah hidup selalu adil? Dia memberi yang adalah milik kita dan mengambil yang bukan milik kita. Dia tak pernah setengah-setengah dan ragu-ragu.

Di tengah kehidupan ini, menulis untukmu membuatku merasa hangat dan nyaman.

Kehidupan tidaklah bisa dijalankan sekehendak hati, dan dihentikan kapanpun diinginkan. Selama kehidupan ini masih memberikan napas, maka suka atau tidak suka kita harus terus menjalaninya.

Kehidupan juga tak memberi kita pilihan hanya yang baik saja, karena sedih dan bahagia adalah bagian dari kehidupan yang harus dijalani. “Andai kita masih bisa diberi pilihan, “ujarku berkeras.

Tapi aku tak pernah cemas karena di tengah kehidupan ini, menulis untukmu masih selalu bisa membuatku merasa hangat dan nyaman.

April

April, adalah nama lukaku.

April datang setiap tahun, menghabiskan semua semangat yang sudah kukumpulkan selama setahun penuh. Kapanpun April datang, April akan tetap menjadi April tahun itu. 

April telah mengumpulkan awan dan menurunkan hujan deras seperti tercurah dari langit, beserta petir dan angin kencang, yang membuatku merasa sungguh kecil dan tak berarti.

Mematung dalam kenangan menghitung hari hingga berganti menjadi Mei, dan masih melanjutkan luka, karena Mei adalah bulan yang takkan pernah menjadi kebahagiaanku lagi. 

Meski ada tawa dan bahagia, tapi April akan datang lagi, dan April adalah nama lukaku.

Hari-hari Itu

Ada hari-hari berat, ada hari-hari yang hanya melelahkan.

Ada hari-hari ketika aku harus menangis dulu sebelum aku dapat melangkah lagi, hari-hari ketika aku harus berhenti sejenak.

Ada hari-hari ketika semuanya tak ada yang benar dan menyenangkan, semuanya salah, waktu yang salah, orang yang salah, situasi yang salah, bahkan ketika aku sudah berusaha menyelesaikan hariku, masih saja ada yang salah. 

Ada hari-hari ketika senyum yang biasanya menyegarkanku, menjadi seringai kejam yang mengejekku. Hari yang menerkamku habis tak bersisa. Tapi ada hari-hari yang membuatku menjadi juara. Hari yang kutaklukkan hanya dengan sedikit usaha, kemenangan yang kuraih dengan mudah.

Dan hei,

ini hanyalah hari-hari itu dari seribu sejuta hari yang masih akan kulalui, yaitu hari-hari buruk tapi bukan kehidupanku yang buruk, hari-hari baik dimana aku akan bersyukur. Karena ketika aku terpuruk, aku masih memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika aku menangis, aku masih memiliki kekuatan untuk menahan isakan.

Dan kukira aku boleh memanggil diriku sendiri sebagai pejuang nomer satu.

Aku takkan pernah menyerah, dan takkan pernah kubiarkan hal-hal jelek dan tak menyenangkan menangkapku hidup-hidup. 

Ini hidup dan kehidupanku. 

Aku Yang Menggambar

Bermula dari sebuah lingkaran. Lalu lengkungan. Kemudian garis, lalu kembali lengkungan dan titik, lalu banyak lengkungan, banyak garis, banyak titik. Akhirnya menjelma menjadi gambar yang satu, dan tak pernah sama, meski sudah kugambar ribuan helai. 

Menggambar adalah menikmati kebahagiaan. Kenyamanan yang tak pernah bisa kujelaskan. 

Aku, adalah penggambar kesepian dan kesedihan yang mengubahnya menjadi kebahagiaan jauh di dalam sukma.

Lukaku

Seharusnya aku sudah menikmati apa yang seharusnya sudah kumiliki tapi nyatanya belum kumiliki. Yang kumiliki kini hanya kenangan-kenangan, dan kubuka diriku untuk menyimpan kenangan-kenangan itu hingga bila perlu, akan kubuka kembali di saat yang tepat, dan langkah-langkah kakiku yang goyah senantiasa bisa memantapkan diri kembali dan tersambung lagi dengan kehidupanku selanjutnya seandainya bisa kumiliki yang harusnya kumiliki.

Tetapi lukaku sudah mengeras, sama seperti senyumku yang mengeras. Nyatanya aku tak mampu melakukan apa-apa, tak mencapai apa-apa dan semua hanya khayalan dan bayanganku saja, karena sedari kecil aku senang sekali berkhayal. Bukankah khayalanku sudah sering kuceritakan padamu. Lukaku perlahan mengeras jauh sebelum luka itu mengeras sepenuhnya. Segalanya bergerak sendiri di luar keinginanku, yang sebenarnya sudah kuduga akan terjadi namun kuacuhkan dan semua tandanya kubantahkan. Jika tidak, aku takkan terus menerus merasa cemas dan gelisah, bahkan pada diriku sendiri. Dan luka yang mengeras harusnya mengeringkan air mataku, tapi bahkan kini ketika aku menulis ini, air mataku mulai merebak, dan satu isakan keluar tanpa kusadari.

Bila ada yang bertanya tentang kesedihan dan lukaku, aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari orang itu, dan menyendiri, karena aku sungguh tak tahan mendengar ketidaktulusan dalam suaranya.

Aku terlalu kecewa dan mati rasa, hingga tak ingin melakukan apa-apa. Aku hanya akan berbaring saja sambil menghitung nafasku. Dan ketika aku menemukan sandalku tidak diletakkan dengan sejajar atau ketika kulihat alat-alat gambarku berantakan aku menjadi akan sangat marah. Mengalami keresahan seperti orang bingung. Aku bisa tidur kapanpun aku mau, tapi bahkan aku tak bisa lelap untuk semenitpun. Aku kesepian tapi ketika ada seseorang yang menemaniku aku begitu menginginkan kesendirianku dan tak mendengar sedikitpun yang dia katakan, hanya menatap bibirnya yang bergerak-gerak.

Hanya ada suatu waktu, ketika angin kencang seperti puting beliung menghempaskan pintu rumahku yang kubuka untuk mengambil koran di depan pintu, dan itu cukup membuat perasaanku bangkit kembali, ada semacam kerinduan yang mirip dengan yang pernah kurasakan ketika masih bersamamu, tapi kini kerinduan pada diriku sendiri yang pernah sungguh kucintai. Dan kerinduan ini mencambukku, membuat punggungku terasa dingin. Perasaan bahagia yang selalu kuinginkan. Membuatku ingin bergegas melakukan apapun yang belum kulakukan. Tidak ada lagi keraguan, masih ada waktu. Meski ada ketidakpastian tentang masa depan. Kehidupan harusnya lebih ramah padaku. 

Kini ketika aku memandang kenangan-kenanganku, perasaan yang kurasakan hanya hampa. Hanya kebahagiaan tentang ketidakpastian ini sajalah yang akan kupegang untuk melangkah lagi.

Inikah Waktuku

Ketika sore menjelang dan kegelapan mulai datang di ujung mataku, aku berjalan perlahan menuju taman di ujung kota. Taman luas yang dulunya indah, tapi kini dipenuhi oleh orang-orang yang memandangku, semuanya. Dari balik pohon, yang tengah duduk di bangku, yang tengah berjalan perlahan menikmati sore, yang tengah berjalan bergandengan tangan. Kemanapun aku memandang, mereka memandangku balik, dengan tatapan kosong dari mata hitamnya. Namun bisa kudengar kata-kata yang bergerak di dalam pikiran mereka, menilai dan berhitung.

Kudekap erat kedua tanganku di depan dadaku dan mulai tersengal, sebab kurasakan tatapan mereka bagai seribu anak panah yang menembus paru-paruku, yang membuatku susah menghirup udara. “Inikah waktuku?” tanyaku pada mereka. Tapi mereka hanya memandang tak menjawab.

Lalu perlahan kudengar bisikkan angin, “Mungkin inilah waktumu, tapi adakah yang sungguh pasti dari waktu?”

Kembali aku melangkah, dan semakin banyak mereka yang memandangku tanpa henti tanpa mengerjab, semakin luas taman ini semakin banyak mereka yang memandangku. “Kemanakah taman ini akan berakhir?” tanyaku dalam kepanikan. Rasa dingin menjalari punggung dan membuat bulu kudukku meremang. “Bolehkah kujawab nasibku kali ini?” tanyaku bimbang.

Lalu seberkas sinar yang sungguh menyilaukan mengarah tepat ke mataku, membuatku memicingkan mata.  Dan ada sepasang tangan terbuka yang menawarkan pelukan hangat dan aman. Di sana aku akan mendapatkan taman tenang milikku sendiri dengan bangku kayu dan payung dedaunan dari pohon-pohon tua dan wangi tanah basah. Dan aku akan memiliki tempat istirahat yang takkan pernah kumiliki bila aku tetap tinggal di sini.

Lalu kutanya sekali lagi,” Inikah waktuku?”